Catatan Seorang Golputer (Part 1)

Bismillahirrahmanirrahim

Nak, sejak tahun 2004, dalam setiap kali ajang pemilu, aku selalu abstain. Aku ini seorang golputer. Jika kalian bertanya mengapa, dengan senang hati akan aku jelaskan pada kalian. Sini, mendekatlah padaku, dan dengarkanlah penjelasanku tentang mengapa aku menjadi seorang golputer.

GOLPUT-contreng1

Pertama, junjungan kita, Rasulullah, nggak pernah mengajarkan demokrasi yang diaplikasikan pada pemilu seperti sekarang ini. Begini nak, pada jaman Beliau dulu, kejahilan, kezhaliman, dan kemusyrikan sangat merajalela. Meski begitu, ada juga orang-orang yang baik, contohnya ya Rasulullah kita ini. Tak ada yang meragukan keamanahan, kepiawaian, dan kemampuan beliau. Saking hebatnya, saat itu, orang-orang kafirpun menawarinya dengan kekuasaan, tapi Beliau menolaknya.

Nah, bila kita berpikir dengan logika orang-orang muslim yang terjun ke parlemen dan mencari kekuasaan dengan tujuan untuk mengurangi kemudharatan yang ada, mestinya Rasulullah mengambil posisi tersebut dan dapat membentuk masyarakat yang Beliau cita-citakan. Namun apa yang Beliau lakukan? Nak, Beliau tidak pernah mengambil posisi tersebut. Beliau lebih memilih untuk memperbaiki aqidah masyarakatnya terlebih dahulu. Kekuasaan umat Islam (khilafah Islamiyah) bukanlah tujuan dari dakwah tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apabila suatu masyarakat benar-benar telah bertauhid, Insya Allah, kekuasaan itu akan datang dengan sendirinya.

Secara nggak langsung Rasululluah SAW mengajarkan teori bottom-up, dari bawah ke atas. Bukan seperti parpol-parpol yang katanya berlandaskan islam terapkan sekarang ini, up – bottom. Prinsip yang diajarin Rasulullah sederhana, kan semua pemimpin dalam level apapun berasal dari dari rakyat. Kalau rakyatnya belum benar nggak akan mungkin menghasilkan pemimpin-pemimpin yang benar pula. Kalau semua masyarakatnya sudah benar, insya Allah pemimpin yang dihasilkan akan benar pula.

Nak, generasi Rasulullah, para Sahabat, thabi’in, dan thabi’ut adalah generasi terbaik dari umat Islam. Apabila demokrasi seperti sekarang , mencalonkan diri untuk dipilih, adalah suatu hal yang baik sebelum menegakkan tauhid, niscaya mereka akan melakukannya lebih dulu daripada kita.

Kalian tentu ingat tentang tulisan ini bukan? Ya nak, niat baik semata belum cukup, niat baik itu harus di barengi dengan cara yang baik pula, seperti Rasululullah beserta Sahabat-sahabatnya ajarkan.

=====

Kedua, dasar negara kita menganjurkan musyawarah untuk mencapai mufakat. Ganteng-ganteng begini, aku pernah juara dua pada penataran P4 saat masuk SMP di kampung dulu. Aku ingat betul, ada butir-butir Β di sila ke 4 yang mengutamakan musyawarah untuk mengambil sebuah keputusan. Kalian tanyalah ibumu, pamanmu, kakekmu atau siapapun yang pernah sekolah di negeri ini, pasti diajarin begitu juga sama gurunya masing-masing. Katanya pancasila adalah sumber hukum dari segala sumber hukum, lalu kenapa sekarang ada perlombaan dan persaingan meraih suara terbanyak dengan bungkus pemilu? Kemana musyawarah-mufakatnya? Apa orang-orang itu lupa apa yang diajarkan guru-guru mereka waktu di sekolah dulu? Aku rada ngeri juga nak liat sistem pemilu “yang terbanyaklah yang menang”. Ini sama aja hukum rimba. Ingatlah, belum tentu “yang banyak” itu “yang benar” nak.

Asal kalian tau, biaya pemilu itu besaaarrr sekali. bisa beli banyak sekali mobil yang kita sekeluarga idam-idamkan. Sebagai penyelenggara sayembara, negara ini mengeluarkan duit yang banyak sekali, trilyunan nak. Berita di tipi yang sempat aku tonton kemarin, dana kampanye partai politik yang datangnya dari berbagai sumber dilaporkan ke KPU itu ratusan milyar jumlahnya. Itu baru yang resmi. Aku sangat yakin, masih ada dana-dana yang ngga resmi. Belum lagi dana pribadi yang keluar dari kocek para caleg yang jumlahnya ribuan itu. Bayangin nak, coba seandainya kita pakai sistem musyawarah saja, berapa banyak uang yang bisa di hemat.

Omong-omong soal dana politik, aku jadi ingat tulisan yang aku pernah menulis disini tentang efek yang mungkin ditimbulkan akibat pengeluaran dana politik yang besar. Terus terang nak, aku nggak terlalu yakin motif mereka yang menyumbang untuk dana politik itu cuma dapat pahala. Contoh yang sudah-sudah, ada motif-motif lain yang bergandengan tangan dengan motif dapat pahala tadi. Hal inilah yang bisa menimbulkan korupsi, kolusi dan nepotisme di kemudian hari.

Jadi, jika kelak kalian ingin mendapat pahala dengan menyumbang, nggak usah lah menyumbang ke partai politik, langsung aja bersedekah sama anak yatim, fakir miskin, kaum dhuafa atau ke masjid saja. Kalo bisa nyumbangnya diam-diam aja, biar niat kalian nggak diboncengin dengan motif riya’.

Aku sendiri nggak habis fikir, kenapa mereka mengingkari dasar negara ini. Sistem pemilu ini secara tersirat menyuruh kontestan bersaing yang berpotensi berpecah, bukan bersatu. Lihatlah efeknya sekarang, pencitraan, umbar janji, black campaign, money politic dan lain-lain. Kalau aku bilang, mayoritas baliho caleg itu merupakan bentuk kesombongan yang nyata.

=====

Kenapa nak? sudah mulai ngantuk? Insya Allah, lain kali akan kuteruskan alasan-alasanku yang lain yang menyebabkan aku menganut golputisme. Aku tau, sikapku ini banyak menimbulkan perdebatan di luar sana. Tak mengapa nak, ini rumah kita, kita yang berkuasa disini, bukan mereka. Sekarang tidurlah yang nyeyak, dan biarkan doaku dan ibumu bekerja untuk kalian bertiga.

7 responses

  1. kmrin baca berita, ada ust menurut beliau golput adalah perbuatan setan. menurut logika beliau, golput digolongkan perbuatan mubazir krn tdk memakai hak suaranya. saya pikir yg mubazir bukan pd person-nya tetapi pd pemilu itu sendiri. bukankah mubazir, miliaran rupiah dikeluarkan utk pemilu tetapi hanya menghasilkan para pejabat yg korup..

  2. sedikit rumit bagaimana harus bersikap mengenai pemilu ini.
    masih ingat saya statemen politisi pdip yang mengusulkan jika pdip berkuasa, menteri agamanya adalah abang yang dari syiah aja. kalo gitu kan repot ya akh?
    kalau sikap saya di pemilu nanti , memilih yang baik diantara pilihan-pilihan buruk. standar baik cukup sederhana, dia menjanjikan membawa aspirasi islam sebagai rahamatan lil alamiin. mengenai kenyataan di lapangan , itu urusan wakil rakyat dengan Tuhannya.

    btw, i’m with you . the most important change is purity of aqidah.
    i’m also with you that democracy not from sunnah.πŸ™‚

  3. Ping-balik: Catatan Seorang Golputer (Part 2) | Ghazwanie mind(ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s