Ada Banyak Cinta yang Menunggu

Bismillahirrahmanirrahim

Anak-anakku, kali ini aku akan bercerita pengalamanku ketika menjadi seorang ayah. Tentu kelak kalian berdua akan mendengar banyak versi cerita-cerita seperti ini. Karena setiap laki-laki punya perasaan sendiri-sendiri ketika mendapatkan amanah berupa status seorang ayah.

4

Bahagia yang teramat sangat, itu yang pertama kali kurasakan ketika tahu ibumu mengandung kalian di perutnya lewat alat kecil ajaib seharga sepuluh ribuan. Padahal waktu itu aku baru calon seorang ayah. Dan setelah itu, dimulailah perubahan yang meskipun tak mencolok tapi terasa sampai kalian lahir. Seorang lelaki yang tidak terlalu jelek, yang kalian panggil dengan sebutan bapak ini mendadak agak romantis pada ibu kalian. Aku ulangi nak, agak romantis. Romantis yang dipaksakan mungkin tepatnya. Jadi terkadang aku membelai perut ibumu, tempat sementara kalian tinggal. Atau sekedar bilang “Mau dibelikan apa?” padanya, ketika aku ada keperluan di luar rumah. Tapi kalau jadi ojek pribadinya sudah sejak menikah dulu nak, karena motor kita dulu cuma satu.

Sedang ibumu perubahannya cukup ekstrim. Maklum saja, dia adalah pemeran utama sehingga aku bisa menjadi ayah. Belum lagi fitrah perempuan yang senang mengobrol dengan sesama kaumnya. jadi informasi-informasi seputar kehamilan dan melahirkan mengalir deras ke kepalanya. Diluar morning sickness syndrome akut yang berbulan-bulan dialaminya, dia sepertinya ingin menunjukan diri bahwa dia pantas menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Bahkan menjelang kalian lahir, dia rajin menyikat dan mengepel lantai, serta jalan-jalan di gang rumah kontrakan kita pada pagi hari. Tapi hal yang paling aku ingat adalah dia sering mengeluhkan bodinya yang perlahan-lahan tak seindah dulu. Dia takut aku akan berpaling darinya. Sebuah ketakutan absurd. Ketakutan yang tak beralasan. Karna seandainya dia tau, betapa besar cintaku padanya, nak. Hehe.

Terus terang aku bukanlah pengikut fanatik petuah orang-orang tua dulu yang kadang disemburkan ke alam pikiranku lewat sanak saudara keluargaku. Semua aku pilah, yang masuk akal dan mampu aku kerjakan, aku turuti. Bukan apa-apa nak, terkadang petuah para tetua dulu itu juga kadang cenderung bersifat kasuistis, jadi misalnya treatment tertentu cocok buat si A, tapi belum tentu cocok buat si B. Bahkan ada juga yang menurutku hanya mitos belaka, contohnya kalau pas mau mengubur ari-ari disertakan pula alat tulis di lubang ari-ari tersebut, katanya supaya kelak si anak pintar. Ini apa hubungannya? Kenapa nggak sekalian dimasukin laptop biar ntar anaknya jenius? Halah!

Aku juga nggak terlalu ngikutin hasil-hasil penelitian dari universitas-universitas atau lembaga antah berantah yang berhamburan di dunia maya. Asal kalian tahu aja, terkadang hasil-hasil yang dipublish bertentangan satu sama lain. Sebagai seorang newbie dalam hal beginian, tentu aku jadi bingung. Mungkin ini juga kasuistis. Mungkin.

Dan tahukah kalian, menjadi seorang ayah itu seperti kita akan bersekolah di pesantren. Ketika kita akan menjadi seorang ayah, kita akan belajar menahan diri dari keinginan yang sering merongrong saat masih berstatus bujangan ataupun belum punya momongan. Dan waktu itu aku terpaksa menolak Kawasaki Ninja R second yang aku impikan sejak jaman kuliah D3, yang ditawarkan seorang teman. Motor terkeren jaman dulu yang oleh teman-temanku kuliahku dianggap bisa mengupgrade kharisma seorang pemuda minimal 30%, bahkan bisa lebih, tergantung faktor pendukung lain. Aku juga hanya bisa menelan ludah melihat review Nikon D-90 disebuah situs photography . Belakangan kamera itu baru bisa aku genggam via bibi kalian di Samarinda, dengan mencicil.

Jadi sebenarnya menuliskan pengalaman menjadi seorang ayah itu menurutku hal yang sia-sia nak. karena rasanya tulisan takkan cukup untuk melukiskan perasaan bahagia ketika menjadi seorang ayah. Kelak –Amiin ya Rabb- kalian berdua akan merasakan sendiri. Makanya aku nggak habis fikir, kalau ada orang yang membenci anaknya, sampai-sampai tega menggugurkan kandungan atau membuangnya ketika baru lahir.

Dan insya Allah, dalam waktu yang tak terlalu lama, aku akan mengulang perasaan bahagia itu lagi. Bedanya kalau dulu kalian berdua ditakdirkan jadi laki-laki, kini calon adik kalian perempuan. Semoga dia cepat lahir nak. Dan aku pastikan, ada banyak cinta yang menunggunya di sini.

29 responses

  1. aduhhh..kalo suatu saat anaknya baca, dia pasti tersenyum senang..aku aja terharu bacanya…emang sih, kita lebih sering melihat ke Ibu daripada ke ayah..dan merasa lebih dekat ke Ibu dari pada Ayah..tp, ayah itu juga gak kalah jasanya dr Ibu…mngkin krna ayahku menyampaikan perasaan sayangnya dgn cara yg jauh berbeda dr Ibu..lebih tegas dan keras, jadi kadang kala aku melihat itu sbg rasa ‘marah’ padahal sbenrnya itu adalah ‘sayang’. Selamat menjadi Ayah’🙂

  2. ya allahhh…selamat ya mass…alhamdulillah banget kalau gtu..
    semoga lancar smpai persalinan nanti..dan semoga dedek dan ibunya sehat selalu
    selalu senang membaca di sini mas…terima kasih udah berbagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s