Kepengen santai

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu, sekitar 7-8 tahun lalu, setelah sukses menyisihkan ribuan orang yang berharap, setelah statusku naik dari tenaga magang-ers menjadi calon tetap, aku dipindahtugaskan ke tempat baru. Aku tak kuasa menolak dan memang tidak mungkin menolak. Meski instansi baru ini tidak nyambung dengan background pendidikanku, tapi aku cuma seorang prajurit yang harus patuh pada perintah atasan. Ditambah lagi waktu itu ada semacam warning tak resmi yang berbunyi “kalau baru calon, jangan macam-macam”. Dan aku memang tak berani macam-macam. Aku hijrah.

Setelah kurang lebih setahun, datanglah masa penyesuaian dari fase calon ke status permanen. Pada tahap ini ada celah bagi prajurit-prajurit sepertiku untuk meminta mutasi. Nah, saat itu beberapa kolegaku di lapak yang lama menyarankan sekaligus menawari untuk balik lagi. Mereka bilang sayang apabila potensiku disalurkan dengan bekerja di tempat sekarang. Belum lagi masalah gengsi, nak. Maklum saja, lapakku yang lama itu -menurut orang kebanyakan- masuk kategori deretan kasta tertinggi, yang tugasnya mengurusi infrastruktur kabupaten ini. Anggarannya mencapai puluhan bahkan sampai ratusan miliar setiap tahun. Kasarnya, mereka mau bilang kalo bekerja di lapak lama aku akan terlihat lebih keren.

Ketika aku ditawari oleh kolegaku tersebut, aku menjawab “aku kepengen santai”. Maklumlah, dulu di lapak lama aku sering begadang untuk ngelembur karna dikejar deadline oleh bos. Meski cuma seorang staf, aku kadang sesekali dilibatkan langsung baik itu dilapangan maupun konsultasi diluar kota. Diikut sertakan pada proyek milyaran rupiah saat itu memang butuh perhatian ekstra.

Agak berbanding terbalik dengan tempatku bekerja sekarang, kantorku ini hanyalah sebuah kantor “kelas ekonomi” kata rekan sejawatku. Mungkin apabila 10 orang awam ditanya tentang kantorku paling cuma 5 orang yang tau, 3 orang pernah dengar, sedang sisanya menggelengkan kepala. Lingkup urusannya juga dianggap sebagian orang tidak “sepenting” kantorku yang lama.

Dan benarlah, ditempat baru aku benar-benar nyantai-nyantai aja. Dua minggu pertama, aku hanya duduk di lobi karena kapasitas ruangan kantor yang terbatas dan belum adanya job yang pasti. Selama 2 minggu itu aku bertemankan koran yang tanggalnya mundur 4 – 5 hari atau tamu-tamu kantor yang sedang mengantri. Kalaupun ada tempat lain yang aku datangi di kantor ini adalah kamar mandi.

Jadilah aku belajar hal-hal baru yang sama sekali belum pernah aku temui. Aku jadi pendengar sekaligus pengamat selama beberapa waktu. Aku ingat tugas pertamaku di tempat ini adalah membuat cetakan sablon untuk menandai barang-barang inventaris kantor. Kalau ini aku sudah punya pengalaman. Dulu waktu kecil aku pernah ikut membuat gerbang selamat datang untuk pamanku yang pulang haji.

====

 Setelah bertahun-tahun lamanya, sampai sekarang aku masih bertahan disini. Masih santai? Kalau ini sih tidak juga. Standart aja. Paling ada kesibukan berlebih menjelang tutup buku. Posisiku pun masih sama, staf. Bedanya cuma lebih senior aja. Tentu saja seorang senior itu punya pengalaman lebih di banding juniornya, meski ada kalanya kasta golongan para junior tersebut lebih tinggi. Asal kalian berdua tau, biasanya faktor pengalaman itu dijadikan kriteria utama dalam penilaian sang decision maker.

santai2

Jadi nak, apabila datang tawaran-tawaran untuk rangkap jabatan atau posisi tertentu yang kelihatannya menggiurkan padaku, mari saling mengingatkan, bahwa dulu aku pernah berucap kepengen kerja santai. Bekerja biasa tanpa harus merasa terbebani. Bekerja biasa tanpa harus merasa dikejar-kejar target yang terkesan imposible. Bekerja biasa tanpa ada tekanan-tekanan yang bisa membuat terjerumus.

5 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s