Berganti Peran

Bismillahirrahmanirrahim

Lama banget aku ngga nulis disini nak. Akhir-akhir ini aku emang agak sibuk dan koneksi internet di kantor lagi bermasalah. Sebenarnya bukan inet-nya yang lagi error, tapi listriknya yang ngga normal. Miris, kabupaten segini kaya dengan sumber daya alam, bisa kekurangan listrik. Akupun ngga habis pikir, kenapa bisa seperti itu. Aku kadang hanya bisa online lewat hape yang limitnya terbatas. Karena itulah aku jarang sekali membuka page ini. Aku juga tak pernah lagi blog walking ke tempat teman-temanku. Huhuhu.

Oh ya, kali ini aku ingin memenuhi janjiku pada kalian diwaktu lalu untuk menceritakan kesibukanku beberapa bulan terakhir ini. Ada beberapa faktor yang membuat kesibukanku berlebih akhir-akhir ini. Diantaranya adalah berhentinya pengasuh kalian berdua yang kita panggil “mbak” itu. Dia berhenti karena ada masalah dengan keluarganya, sehingga tak lagi bisa bekerja pada kita. Aku dan ibu sangat menyanyangkan kejadian ini, tapi ini di luar kuasa kami, nak. Padahal mbak itu orangnya rajin dan jujur. Dia juga dekat dengan kalian berdua. Sampai saat ini, aku dan ibumu belum dapat penggantinya.

Disaat si mbak berhenti, ibumu juga terkena morning sicknes, yaitu semacam berubahnya hormon didalam tubuh, ciri khas ibu-ibu yang sedang hamil muda. Pada kasus ibumu, efek dari syndrom ini termasuk parah. Dia tidak mau makan, muntah terus dan selalu mengeluhkan rasa mual serta rasa panas di ulu hatinya. Indera penciumannya berubah jadi sangat tajam. Kalian bayangkan, dia tahu aku mengupas bawang di dapur padahal dia berada dikamar yang tertutup, pake kipas angin lagi. Jika sudah mencium bau yang agak strong, pasti muntah. Alhasil dia dengan sukses ngga ngantor selama hampir 2 bulan lebih. Untung bos ibumu tipe orang yang baik hati dan pengertian, sehingga mau memberikan izin.

Ketika ibumu sedang sakit itulah, akulah yang mengurus rumah. Aku yang antar-jemput kalian sekolah, menyapu, mengepel, cucian dan masak. Untunglah aku mempunyai sedikit basic dalam hal mengurus rumah tangga. Dulu waktu masih bujangan, aku malang-melintang ngekost. Kurang lebih 5 tahun aku ngekost dan sekitar 4 kali pindah. Jadi cukup familiar lah kalau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kalian berdua juga ngga terlalu cerewet dalam hal menu makanan. Yang terpenting ada nasi, untuk lauknya random aja. Yang sering sih telur sama mie instant, alasannya mudah di tebak, karena praktis.

Untungnya lagi pekerjaanku agak fleksibel, bisa dikerjain di rumah. Jadi kadang aku pulang cepat atau malah bolos jika sedang kepepet ngga bisa bagi waktu. Terkadang juga kalian kuboyong ke kantor sepulang sekolah, hal ini berlaku apabila kakekmu ada keperluan sehingga tak bisa mengasuh kalian. Tapi aku kadang sempat stress juga, kalau kerjaan lagi banyak, meski bisa aku kerjain dirumah, tapi tetap saja waktuku tersita buat ibumu dan kalian berdua. Ya mau gimana lagi, resiko orang dewasa nak, terlihat menyenangkan tapi susah dijalanin.

Sebenarnya ibumu dulu pernah mengalami syndrom seperti ini, yaitu saat sedang mengandungmu kakak abi. Bedanya dulu ibumu tidak terlalu mengeluh, aku pikir mungkin karena faktor anak pertama dan waktu itu kami masih tinggal di Perumahan Mertua Indah. Jadi perasaan senang akan mendapatkan seorang anak agak menutupi rasa sakit dan mungkin malu juga sama bapak-ibunya kalau kebanyakan ngeluh. Kali ini ibumu agak rewel dan manja menurutku. Bisa dimaklumi lah, karena suaminya yang ganteng ini ngga bisa ngasi perhatian yang full, karena mengurus kalian berdua, rumah dan pekerjaan. Sedang kau, acing, ibumu tidak menemui hambatan yang berarti saat mengandung.

Setelah kurang lebih dua bulan, kondisi fisik ibumu semakin lemah. Ahirnya aku putuskan membawanya ke rumah sakit. Sama seperti hamil kamu dulu kakak abi, tapi kini ibumu lebih lama dirawatnya, 5 hari. Selama itu aku ngga ngantor, berjaga bergantian dengan kakek kalian. Aku kena shift siang, sedang kakekmu malam.

mom

Begitulah nak, ahirnya kini ibumu berangsur-angsur normal kembali. Aku menulis ini, bukan ingin menunjukkan pada kalian bahwa aku layak masuk nominasi seorang superdad. Bukan nak, tapi sebaliknya aku ingin mengajarkan pada kalian berdua bahwa betapa besar pengorbanan seorang ibu. Selama ini aku terkesan tau beres saja. Makan tinggal makan, baju sudah tersedia rapi di lemari, sepatu dan kaos kaki siap pakai, pokoknya tau kerja saja nyari nafkah. Dengan adanya kejadian ini aku jadi tahu betapa beratnya pekerjaan seorang ibu rumah tangga seperti ibumu. Aku jadi faham kenapa dia kadang mengomel kalau aku lupa menaruh handuk pada tempatnya atau sering bergonta – ganti baju meski tidak kotor.

Bulan Ramadhan kali ini peran ibumu bertambah berkali-laki lipat. Dia membawa calon adik kalian berdua kesana-kemari  lengkap dengan gejala bawaannya seperti mual serta sakit pinggang dengan tetap berpuasa. Dia juga bisa berubah jadi alarm dengan wujud yang sangat cantik, yang bisa berbunyi : “Say, bangun yuk.. sahur..” . Dan dipagi harinya dia juga dengan sigap menangani tingkah polah nakal kalian berdua untuk bersekolah.

Jadi nak, aku sengaja menulis ini karena kalian berdua itu laki-laki. Dan aku yakin kelak, insya Allah, kalian juga akan mempunyai istri.

7 responses

  1. Ping-balik: Seperti Power Rangers | Ghazwanie mind(ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s