Kutu-kutu-kutu!

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah lama aku nggak nulis disini. Maaf nak, kalian tau sendiri akhir-akhir ini aku disibukkan dengan kerjaan, baik itu di kantor maupun di rumah. Penyakit ibumu yang selalu terkena morning sickness akibat hamil muda dan berhentinya mbak yang biasa menjaga kalian berdua ketika kami ngantor membuatku kelimpungan sendiri. Tapi “kesibukanku” ini akan kuceritakan lain kali saja ya?! Karna kali ini aku ingin membahas kejadian minggu kemaren yang mengingatkan kenangan masa kecilku.

Minggu kemarin itu aku dan ibumu dikejutkan oleh adanya kutu di kepalamu, acing. Memang beberapa waktu lalu ibumu mengeluhkan rasa gatal di kepalanya, dia berfikir itu disebabkan oleh kutu, sedang aku berfikir paling-paling ketombe. Ternyata benar kutu, dan sudah bermigrasi ke kepalamu acing. Tipikal rambutmu dan ibumu emang mirip, ikal dan bergelombang, cuma rambutmu lebih ekstrim. Yang mengherankan dikepala ibumu, kutu-kutu itu nggak berkembang biak, tapi dikepalamu mereka beranak pinak. Habitatnya cocok mungkin. Aku dan kakak abi lebih beruntung, kami selamat.

acing

Ahirnya ibumupun bergerak cepat. Meski rasa mual mendera, demi anak tersayang, dia sibuk mencari kutu di kepalamu, acing. Hasilnya lumayan, belasan anak-anak dan kutu-kutu remaja didapat. Itu belum termasuk telur-telur yang belum menetas. Sedang indukan kutunya masih buron sampai sekarang. Mungkin keburu mati. Memang agak sedikit sulit kalau mencari kutu di kepalamu itu. Disamping kau orangnya ngga bisa diam, lokasi medan kepala yang ditumbuhi  rambutmu yang panjang bergelombang itu membuat proses pencarian berlangsung lambat.

Seorang teman menyarankan memakai peditox, semacam cairan obat pembasmi kutu. Bukannya aku nggak sanggup beli nak. Tapi menurutku kayanya itu nggak baik. Waktu aku kuliah di jurusan pertanian, aku diajarin cara menanggulangi hama yang terbaik adalah dengan cara manual. Adapun cara kimiawi adalah pilihan terakhir dan sangat tidak dianjurkan, alasannya adalah bahan kimia dapat berpengaruh pada tanaman (mahluk hidup). Nah, kutu kan juga hama dan kita adalah mahluk hidup. aku juga yakin dosenku nggak mungkin bohong.

Selain itu nak, mencari kutu secara manual itu menimbulkan semacam proses interaksi yang baik antara yang punya kutu dan si pencari kutu. Untuk kalian ketahui, orang-orang dulu khususnya wanita, angkatannya nenekmu, mencari kutu itu merupakan kegiatan sosial. Di kalimantan rata-rata rumahnya adalah rumah panggung yang lumayan tinggi. Jadi ada 3-4 wanita dewasa duduk secara bersusun di tangga rumah sambil mencari kutu ataupun ketombe. Adapun hal jelek dari kegiatan ini adalah mereka itu sambil ngerumpi, wajarlah itu, namanya juga ibu-ibu. Kalo sambil nyari kutu mereka main catur itu baru aneh.

cari kutu

Jadi acing, kutuan itu wajar kok. Aku malah berfikir, kayanya hampir semua orang pernah kutuan. Cuma karna jaim aja jadi rada malu mengakuinya. Asal kau tau, dulu aku dan ibumu masih kecil juga kutuan, parah malah. aku ingat waktu SD, temanku menemukan beberapa ekor kutu sedang berjalan-jalan di kerah baju sekolahku. Tak jarang kutu-kutu itu menempel di topi dan songkok kalau aku sedang kegerahan. Kepala ibumu sampe korengan akibat kutuan dan pamanmu Nico harus rela digundul untuk menghilangkan hewan kecil itu dari kepalanya. Jadi kamu ngga usah malu punya kutu. Itu ngga dosa kok, nak.

Nak, meskipun kutu itu ngga baik buat kita, tapi tak usahlah membencinya secara berlebihan. Dia juga mahluk Allah, nak. Aku percaya, apapun yang diciptakan oleh Allah itu pasti mempunyai manfaat. Dulu ketika aku kecil dan membantu nenekmu berkebun, aku benci sekali dengan ilalang. Menurutku ilalang itu pengganggu, rakus, bandel dan tidak berguna sama sekali. Eh, ketika dewasa, aku sadar bahwa ilalang bisa dijadikan atap dan bisa dijadikan obat. Nah demikian juga kutu, nak. Mungkin dia juga berguna, tapi bukan dikepala kita.

13 responses

  1. jadi teringat semasa aku kecil dulu, sering juga kegiatan seperti ini dilakukan di desaku, namun sekarang sudah jarang terlihat kegiatan seperti ini lagi, sampe dulu itu ada lomba siapa yang paling banyk dapet kutu

  2. kami sekeluarga pernah kutuan…tertular pembantu yang kerja dirumah

    cara menghilangkannya? errr…cukur pendek, dan keramas kemudian dilap pake handuk putih, kutunya ketangkep semua…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s