Pilihan-pilihan Baik

Bismillahirrahmanirrahim

Minggu lalu adalah minggu unpredictable bagiku. Biasanya setiap minggu kegiatanku cenderung flat-flat aja. Senin-Jumat ngantor, sabtu-minggu ngebun dan setiap malam jadi guru ngaji. Tapi minggu kemaren berubah drastis.

Diawali dengan keputusanku untuk menerima tawaran ikut tugas luar kota dari kantorku dengan tujuan jogyakarta selama 5 hari. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku ngga punya alibi bagus. Asal kalian tahu, hampir 2 tahun ini absensiku bersih dari tugas luar kota. Aku selalu sukses menolak dengan halus setiap kali ada perintah, ajakan dan tawaran untuk itu. Jika kalian bertanya kenapa, kelak jika kalian cukup dewasa akan kujelaskan kenapa. Jadi kesimpulannya, minggu lalu sistem imun tugas luar kotaku jebol.

Meskipun agak kurang suka dan tak bisa menolak, ada hal lain yang membuatku sedikit terhibur dari tugas ini, yaitu faktor Jogyakarta. Disamping kota ini adalah kota wisata yang bersih dan segala sesuatunya murah dibandingkan kalimantan, kota ini punya sejarah sendiri bagiku. Di kota inilah dulu, 13 tahun lalu, aku dan teman-teman kuliahku sempat menjadi backpacker kere. Tidur di masjid di sebuah lorong malioboro, yang diusir ketika waktu shalat subuh tiba, ngelompatin pagar pembatas kawasan candi borobudur karena ngga punya uang untuk beli tiket masuk, serta harus bergonta-ganti bis kota diselingi jalan kaki untuk bisa nyampe ke parangtritis. Aku ingat, ketika itu aku hanya membeli 1 celana batik yang sekali cuci warnanya langsur pudar, 1 kaos oblong dadung –itupun karena tergoda sama poster iklan sheila on 7, band idola waktu masih ababil- dan 1 buah slayer.

Sekarang, meski tidak terlalu drastis, aku merasa ada perbedaan perjalananku ke jogya antara dulu dan kini. Sekarang aku dengan mudah melambaikan tangan atau menelpon untuk memanggil taksi. Aku tidur nyenyak di sebuah hotel sederhana. Aku bisa jeprat-jepret semauku meski cuma pake hape. Aku sanggup membelikan kakek, nenek, paman, ibumu dan kalian berdua oleh-oleh. Aku juga bisa menyewa ATV di parangtritis. Aku bisa kongkow-kongkow sambil ngalor-ngidul malam-malam disebuah cafe yang keren bersama pak bambang, mas aan dan yoga, teman-teman dunmayku. Aku juga dengan bangga bisa membayar karcis masuk komplek candi prambanan.

IMG_20130418_153748

Bukan nak, bukan berarti sekarang aku sudah sukses. Bukan itu point tulisan ini. Aku masih jauh dari kata sukses. Memang dari segi finansial terlihat aku lebih baik dari 13 tahun lalu. Tapi itu masuk akal, karena dulu aku cuma nodong orang tuaku. Sekarang aku sudah punya pekerjaan sendiri, jadi wajarlah kalo aku bisa seperti yang aku jelaskan di atas.

Maksud tulisan ini adalah nikmati aja hidup ini. Jadi begini nak, hidup itu pilihan, sangat manusiawi kalau kita memilih yang kita sukai. Pilihan disini bukan hanya soal baik dan buruk, tapi terkadang dalam hidup itu juga ada pilihan soal baik-baik saja. Nah, ketika dalam pilihan yang baik-baik itu kita terpaksa memilih yang kurang kita sukai, ya dinikmati saja. Contohnya ya aku tadi, ”terpaksa” ikut tugas luar kota meski sebenarnya ngga mau. Nak, in this case, it’s not a big deal. Just enjoy the show.

Oia nak, mulai minggu ini dan insya Allah minggu-minggu seterusnya, jadwalku normal lagi. Tapi Aku ngga berani janji, siapa tau datang pilihan-pilihan baik lagi dan aku kembali dalam kondisi tak bisa memilih.

39 responses

  1. kopdaran ya mas… wuahhh… sekalian diposting mas cerita kopdarnya..
    *berbinar-binar

    memang mas, memilih yang terbaik dari yang baik itu memang lebih susah mas😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s