Bersyukur = Bahagia

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku ingin menceritakan sesuatu yang menurutku sangat penting bagi kalian berdua. Seperti yang kalian ketahui, kita adalah keluarga yang sederhana. Ngga kaya, ngga miskin juga. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa aku ingin jadi orang kaya. Inilah alasan kenapa setiap weekend aku hampir selalu pergi ke kebun. Karena kalau mengandalkan gajiku dan ibumu kayanya agak sulit aku mewujudkan keinginanku itu. Karena berapalah gaji abdi negara golongan rendah seperti kami, itupun harus dikurangi dengan biaya hidup mahal di kota kita ini. Lumayanlah buat tambah-tambah beli susu-mu, acing dan SPP-mu, kakak abi.

Tapi nak, ketika kita ditakdirkan belum menjadi seperti yang aku inginkan, janganlah merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Kita harus tetap bersyukur. Maksudku, meski kita menjadi tak seperti yang kita mau, tapi yakinlah ada sesuatu nilai lebih dari keadaan itu.

Ada banyak contoh yang mendukung statementku di atas. Kaya kemarin ada gerakan earth hour dikota kita, yaitu gerakan tahunan untuk mematikan listrik selama 1 jam saat malam hari. Aku ngga bermaksud sombong nak, kita sudah membudayakan gerakan itu jauh lebih dulu dan setiap hari malah. Tapi kalo ada liga champions eropa, lain cerita.

Terlihat keren kan?! Orang lain 1 hour – 1 tahun, sedang kita ber hour-hour setiap hari. Ini murni kesadaran kami nak. Bukan karna sekedar ikut-ikutan peduli lingkungan atau gengsi-gengsian di social media, tapi lebih karna takut voucher listrik cepat habis. Hehe.

Ada juga saat musim liburan datang. Teman-teman dunmay dan kantorku kadang memposting foto-foto liburan mereka di tempat-tempat eksotis baik itu dalam maupun luar negeri di social media. Ada yang di pantai, gunung, tempat bersejarah ataupun kota-kota ternama. Ngiri?! Absolutelly, yes! Sebenarnya akupun ingin mengajak ibumu dan kalian ke tempat-tempat itu. Tapi ya itu tadi masalahnya, dana yang tak mencukupi. Sebagai gantinya aku mengajak kalian ke pemancingan, pasar malam, sawah, pantai dan bukit-bukit tak berpenghuni di seputaran kota kita ini. Kalian tetap terlihat bahagia, meski liburan ngga jauh dari rumah.

DSC_0051a

Trus dimana unsur “nilai lebih”-nya?! Begini nak, dengan blusukan menjelajahi kota, kita bisa lebih mengenal kota kita ini dengan baik. Buktinya teman-temanku banyak yang belum tahu dan menanyakan lokasi foto-foto kita yang aku aplot. Dan satu lagi, budgetnya murah, ini yg terpenting. Cukup 2 liter bensin dan makanan ringan secukupnya. See?! Refreshing dapat, hemat juga dapat.

Masih kurang?! Baiklah, aku ceritakan hal lain soal “nilai lebih” ini. Alkisah dahulu ada siput yang sangat iri dengan seekor katak. Setiap kali bertemu, siput selalu bersikap sinis. Lama-lama katak merasa tak enak hati, dan berinisiatif menanyakan sebab sikap siput yang sinis itu. Setelah berdialog, ternyata si siput iri dengan katak karena dibekali empat kaki dan bisa melompat kesana-kemari dengan cepat, berbeda dengan siput yang tak punya kaki, merangkak dan harus membawa cangkang yang lumayan berat. Ditengah dialog, tiba-tiba datang seekor elang. Siput dengan refleks bersembunyi di cangkangnya, sedang katak tak sempat melompat. Ahirnya si katak malang tertangkap elang dan jadi santapannya. Setelah itu siput sadar, bahwa dalam keterbatasan fisiknya dia mempunyai “nilai lebih” dibandingkan mahluk lainnya.

Hal-hal tersebut di atas tersebut kiranya cukup untuk menggambarkan “nilai lebih” hidup sederhana. Bukan berarti menjadi orang kaya itu ngga bagus. Orang kaya itu punya akses dan space lebih baik. Yang aku tekankan disini apabila kalian berada pada posisi yang menurut kalian tidak menguntungkan. Karna ngga ada gunanya meratapi hidup yang tak sesuai keinginan kita. Lebih baik berfikir positif dan selalu mensyukuri apa yang telah di gariskan oleh-Nya. Jadi aku harap kelak kalian berdua bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur. Karena aku yakin bukan kebahagian yang membuat kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

23 responses

  1. tuh bekgron gambarnya, daerahku bangetttt. seneng, sejuk.
    liburanku juga suka yang gratis2 mas. palingan ke taman kota. walopun sudah nggak tinggal di surabaya lagi, tapi mainannya masih kesono. ke taman-taman …. gratis.

  2. Ping-balik: Matematika yang Salah | Ghazwanie mind(ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s