Seperti hari yang lain

Bismillahirrahmanirrahim

Kemarin pas hari sabtu, tanggal 9 Pebruari, secara legal dan prinsip, aku berulang tahun. Tapi tahukah kalian bahwa ada fakta yang lumayan menarik dibalik tanggal lahirku itu. Kalian berdua mau mendengarnya? Sini, duduk dekat denganku, dan dengarkan baik celotehanku ini.

DSC_0068a

Sebagai pengantar ada baiknya kalian mengetahui dulu tentang bapak dan ibuku, yaitu kakek dan nenekmu. Sebelum bertempat tinggal yang sekarang, dulu mereka tinggal jauh di pelosok. Mereka cuma sempat mengenyam pendidikan sekitar 2 tahun. Hasilnya lumayan nak, mereka bisa baca-tulis. Masa mudanya selebihnya untuk bekerja dikebun membantu orang tuanya. Dengan background seperti itu, aku memang tak bisa menyalahkan kalau sistem administrasi dan pengarsipan mereka agak sedikit amburadul.

Jadi ketika aku lahir, mereka tak mencatat tanggalnya. Yang mereka ingat hanyalah aku lebih tua 2 bulan dari Abum, sepupuku, dan lebih muda 3 bulan dari Santi, juga sepupuku yang lain. Aku bersyukur nak, mereka ingatnya seperti itu. Bagaimana kalau dalam ingatan mereka bahwa aku ini lahir ketika hujan deras dengan suara petir yang bersahutan? Atau aku ini seumuran dengan pohon durian di samping rumah? Nggak banget sepertinya.

Mungkin kalian bertanya, kalau aku orang kampung, kenapa namaku berbau ke-kota-an!? Kalau ini nak, murni usulan dari nenekku, datuk kalian berdua. Beliaulah yang mendapatkan ilham untuk namaku sekarang. Aku bukannya bermaksud sombong nak, tapi  dari puluhan cucu-cucu beliau, aku ini salah satu cucu kesayangannya. Dulu aku sering tinggal bersamanya kalau lagi libur setelah pembagian raport. Aku menemaninya memancing dan membersihkan kebun. Aku ingat, beliau menangis dan memelukku ketika aku kecelakaan motor. Beliau juga rela menempuh perjalanan selama 7 jam untuk datang ke kota kita sekarang demi bisa ikut mengantarku menyunting ibu kalian, meski ketika sampai beliau tidak bisa bangun karena mabuk darat. Sesuatu yang jarang beliau lakukan untuk cucu-cucunya yang lain. Tapi sayang nak, aku tak bisa menghadiri pemakamannya 2 tahun lalu.

Sampai dimana tadi, nak?! Oh ya, Waktu dulu, dikampungku,  tidak mencatat tanggal lahir bukanlah suatu masalah besar. It’s not a big deal. Karena tak pernah ada acara-acara perayaan milad yang marak sekali sekarang. Tetapi masalah mulai datang ketika aku hendak didaftarkan masuk sekolah. Saat itu umurku diyakini menjelang 7 tahun, yang ditandai dengan tangan kananku yang bisa menyentuh telinga sebelah kiri melewati atas kepala. Dahulu itulah salah satu syarat seorang anak bisa bersekolah di kampungku. Aku yakin jika aturan itu diterapkan sekarang pasti akan diuji di mahkamah konstitusi.

Saat itu bapakku agak kebingungan ketika ditanya soal tanggal lahirku. Dan entah karna spontan atau dapat wangsit, bapakku menyebut tanggal 9 Pebruari. Akhirnya tanggal itu tercatat dibuku sekolah. Sedang aku saat itu tak tahu apa-apa, nak. Mungkin aku terlalu sibuk menghapus ingus yang terkadang keluar dari hidungku. Tanggal 9 Pebruari itu semakin syah statusnya ketika bapak mengurus akte lahirku. Padahal ketika di compare dengan si Abum, sepupuku yang bapaknya seorang kepala sekolah dan mencatat tanggal lahirnya, berbeda sekitar 9 bulan dari tanggal lahirku.

Begitulah nak, ihwal tanggal 9 Pebruari itu. Tapi seperti yang kubilang tadi tanggal itu tak terlalu penting bagiku. Karena aku tak pernah merayakannya. Tak ada perlakuan khusus dari orang tuaku ketika tanggal itu tiba. Akupun bersyukur terbebas dari kebiasaan yang menurutku tidak begitu penting. Sebenarnya semenjak lulus D3 dulu aku mengabaikan perhitungan matematis seperti ini, soalnya kalau dihitung terus, terkadang membuatku minder. Aku juga tak marah dengan orang tuaku, malah aku berterima kasih pada mereka. Masih syukur aku secara lagal punya akte lahir, banyak bayi-bayi lain yang sampai sekarang tak punya akte karena kelakuan orang tuanya.

Begitulah, sepintas memang orang tuaku melakukan sebuah kesilapan, tapi dibalik kesilapan tersebut ada semangat untuk memperbaiki dan menjadikannya lebih baik. Ada rasa sayang orang tua  kepada anaknya. Jadi, kuharap kalian dapat belajar dari apa saja. Bahkan dari sesuatu yang nampak salah.

Oh ya, nak, hari ini sudah tanggal 11 Pebruari. Seperti yang kalian berdua lihat, tanggal 9 Pebruari kemarin tak ada sesuatu yang khusus di rumah kita. Aku ke kebun jamur, ibumu mengurus rumah, dan kalian sibuk bermain. Sama seperti hari yang lain.

11 responses

  1. Happy Milad, Pak. Istri saya juga tercatat lahir pada tgl 9 Pebruari. Tapi sepertinya memang benar demikian. Bukan karena mertua saya dapat wangsit. Hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s