Politik dan Daging Sapi

Bismillahirrahmanirrahim

Kemarin hari ada berita yang bikin heboh, nak. Pemimpin sebuah partai yang berlandaskan Islam yang kesana-kemari membawa tagline bersih dan peduli, tersangkut masalah korupsi. Katanya soal impor daging sapi. Banyak yang tak percaya, termasuk aku sendiri. Masalahnya ini PKS. Partai yang konon berawal dari kalangan ekslusif dan tumbuh di kampus-kampus. Tapi pada akhirnya akupun sadar, PKS itu isinya bukan malaikat, tapi manusia juga seperti kita. Apalagi kekuasaan dan harta itu adalah kawan karib, disamping birahi tentu saja.

pks

Maka, dimulailah hari-hari berat bagi partai ini, dimana media memblow up berita ini. Sepert dosis obat pilek yang kalian gunakan, beritanya muncul pagi-siang-malam setiap hari. Akhirnya, Pak LHI nama pemimpin partai ini, mengundurkan diri.

Peristiwa ini oleh kawan-kawan pak LHI, dianggap sebuah permainan politik belaka. Mereka menyebut ini adalah bagian skenario pihak lain untuk memuluskan kepentingannya, karena pemilu hampir di ambang mata. Kalau ini aku mahfum nak, aku biasa saja menanggapinya. Wajar saja, mereka ini satu bendera. Tengok saja sikap mereka saat koleganya dulu ketahuan nonton bokep.

Terus terang, aku sendiri tak terlalu paham dengan politik. Yang aku tahu politik itu cara untuk mendapatkan sesuatu, dalam hal berbangsa dan bernegara sesuatu itu adalah tahta kekuasaan. Celakanya ongkos untuk berkompetisi di negeri ini mahal. Jadi kecenderungan yang berkembang sekarang adalah setelah mendapatkan kekuasaan maka hartalah target berikutnya. Ceritanya untuk mengembalikan modal, tapi kebanyakan berikut dengan bunganya. Ini adalah salah satu alasan kenapa sekarang aku jadi seorang abstainer.

Tapi ada satu kekuasaan atau jabatan publik di negeri ini yang tidak pakai ongkos, nak. Setiap orang biasanya bersikap tau diri dan legowo mempersilahkan yang lebih mampu untuk mendapatkannya. Tidak ada slogan-slogan “merasa bisa”, yang ada adalah “bisa merasa”. Dan ketika seseorang yang memegang jabatan ini melakukan kesalahan, maka dia akan mundur dengan sendirinya tanpa diminta, untuk digantikan yang lain. Jabatan ini adalah Imam shalat berjamaah. Tapi entahlah kalau suatu saat nanti jabatan imam itu ada honornya. Jika itu yang terjadi, tidak tertutup kemungkinan politik yang tadi kujelaskan akan masuk masjid, dan kiamatlah dunia.

Akhirnya nak, Seperti yang aku bilang tadi, kita ini manusia, bukan malaikat. Kita ambil saja ibroh dari sesuatu yang menimpa Pak LHI ini. Keimanan itu terkadang naik-turun, tergantung cuaca. Jadi jika iman kalian tak cukup kuat, maka janganlah mendekati sesuatu yang cuacanya kurang bagus bagi kalian. Sesuatu yang bisa menjerumuskan dan tidak bisa kalian tolak. Jabatan dan kekuasaan misalnya.

25 responses

  1. Untuk tetap istiqomah itu memang sulit ya… harus sering ada yang mengingatkan saat jalan sedikit saja melenceng…., yang sulit kalau melencengnya sudah jauuuuuh dan saat terlihat melenceng, orang membiarkan saja dgn harapan ntar bisa lurus sendiri, konon… dengar2 ini mah, kecurigaan thd beliau atau dep peternakan sudah tercium sejak lamaaa, tp ndak ada yang “bangun” semua terlena dengan keindahan dan kenikmatan dunia ..aaahh politik..politik..🙂

  2. Ping-balik: Catatan Seorang Golputer (Part 1) | Ghazwanie mind(ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s