Kupu-kupu yang Tak Bisa Terbang

Bismillahirrahmanirrahim

Alkisah, ada seseorang yang baik hatinya. Dia sudi menolong siapa saja. Niatnya tulus, yakni membantu. Suatu hari, tanpa sengaja dia melihat proses metamorphosa seekor kupu-kupu. Tampak olehnya seekor mahluk sedang bersusah-payah keluar dari sebuah kepompong. Rupanya lubang kepompong yang ada terlalu kecil bagi kupu-kupu untuk keluar, demikan analisa orang yang baik tadi. Kemudian dia mengambil pisau kecil untuk melebarkan lubang pada kepompong itu dan mengeluarkan mahluk bersayap itu.

Akhirnya calon kupu-kupu itu akhirnya bisa bebas. Dia pun pergi meninggalkan kupu-kupu tadi. Orang yang baik hati itu senang, karena merasa telah menolong makhluk tuhan.

13302612981202309747

Namun, Orang itu tak tahu, kalau makhluk indah itu ternyata tak pernah benar-benar menjadi kupu-kupu sempurna. Tubuhnya gembung dan masih menyerupai ulat. Sayapnya mengkerut dan pendek, tidak bisa mengembang. Sepanjang hidupnya dia hanya bisa merangkak dan tidak bisa terbang.

Orang baik itu tidak pernah tahu bahwa perubahan wujud kupu-kupu itu belum paripurna. kepompong itu adalah suatu tempat diamana ada rekayasa alam di dalamnya. Allah mungkin memang sengaja memperlambat keluarnya kupu-kupu supaya proses alam berjalan sempurna.

===

Jadi begitulah, nak. Niat baik semata belum cukup. Seperti kata salah uztad yang halaman fans page-nya aku ikuti di facebook. Dia bilang niat baik itu harus di ikuti cara yang baik pula. Cerita di atas rasanya cukup untuk membuktikan itu. Dan dalam ibadah agama kita, “cara yang baik” itu adalah yang di ajarkan Rasulullah beserta para sahabat-sahabatnya.

Nah, atas dasar itulah, beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya aku menolak ikut ketika diajak “keluar” oleh salah satu jamaah masjid di persimpangan jalan menuju rumah kita. Kenapa kubilang kesekian kali, karna aku menghitung sudah 3 kali aku di lamar golongan ini. Dan semuanya sukses aku tolak, resikonya aku pernah disebut sombong oleh mereka.

Terus terang, nak. Aku memang bukan orang suci, tapi aku ingin menjadi suci. Aku tak berani mengikuti ajakan jamaah tersebut. Aku tak berani menyelisihi apa yang Pemimpinku ajarkan. Aku takut nantinya akan membuat seekor kupu-kupu hanya bisa merangkak dan tak bisa terbang sepanjang hidupnya.

9 responses

  1. Ping-balik: Catatan Seorang Golputer (Part 1) | Ghazwanie mind(ed)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s