Renungan Seorang Suami yang Istrinya Suka Bakso

Bismillahirrahmanirrahim

Dahulu, sebelum aku dan ibu kalian berdua belum mengikat janji, kami kadang-kadang makan diluar bersama, tapi itu kalau lagi tanggal muda. Sebenarnya ini adalah implementasi salah satu jurus dari buku 1001 tutorial menaklukkan hati wanita yang dulu pernah aku ceritakan pada kalian. Bab dan halamannya aku lupa, cuma aku ingat salah satu trik yang di ajarkan di buku itu adalah mentraktir wanita yang ingin direbut hatinya makan di luar.

Dulu, dan sampai sekarang pun, Ibu kalian itu sangat menyukai bakso. Sedang aku tak terlalu suka, tak jelas kenapa. Tapi biar kata tidak doyan, dulu aku pura-pura suka saja. Setidaknya begitulah menurut penjelasan buku primbonku itu. Belakangan baru aku mengerti maksud dari buku itu. Jadilah dulu kami sering ngebakso bersama. Paling sering bersama salah satu teman wanitanya. Ada juga bersama paman kalian, Aat, yang waktu itu masih seumur kamu, kakak abi.

Salah satu warung bakso kesukaan ibu kalian di kota kita ini adalah warung Putra Solo 1. Menurut analisa dia, bakso disitu enak dan pelayanan cepat. Meski terkadang ada saja yang mencari nafkah dengan menjual suara dan petikan gitar seadanya disitu, tapi overall suasananya lumayan nyaman. Manajemennya sudah agak profesional, terbukti dengan pelayannya yang berseragam dengan job desk yang jelas. Berbeda dengan bakso portable yang sering mondar-mandir di gang rumah kita, yaitu abang-abang membawa gerobaknya kesana kemari. Kalau yang ini nak, one man show namanya. Sedikit rempong bagi yang tidak ahli.

DSC_00091

Saking seringnya kami nongkrong di Putra Solo 1 itu, secara tak sengaja aku menamai kontak telepon genggam ibumu dengan nama PS-1 di hapeku, kependekan nama warung bakso itu. Untuk kalian berdua ketahui, sampai kini nama PS-1 itu masih ada di gadget senterku. Meski banyak nama-nama pilihan yang lain seperti cinta, bunda, istriku, umi atau yang agak sedikit alay seperti ayank, beib dan my luph, tapi aku tetap memakai PS-1. Nilai historisnya lah yang membuatku lengket dengan nama itu.

Itulah cerita sekitar 6-7 tahun lalu. Tapi cerita memori warung bakso itu tiba-tiba terlintas lagi beberapa hari belakangan ini. Dimulai dengan penemuan bakso berupa daging sapi dan daging babi yang di oplos di Jakarta.

Seringnya dimuat di televisi dan bantuan jejaring sosial, berita ini cepat menyebar dan sampai juga di propinsi kita. Salah satu teman di kantorku menerima BBM yang menyebutkan nama beberapa warung di samarinda terindikasi menggunakan daging babi. Malah, Entah benar atau tidak, katanya di salah satu TPA di Samarinda ditemukan 10 ekor kepala kucing.

Efeknya langsung terasa nak, beberapa hari lalu salah satu abang bakso portable yang biasa mangkal di kantor sepi pembeli. Padahal biasanya, dia selalu kekurangan mangkuk karena banyaknya pesanan. Teman-teman agak khawatir dan ragu. Jangan-jangan…, mungkin pemikiransemacam itulah yang ada di tengkorak kepala mereka.

Aku jadi kasihan dengan penjual bakso itu. Dia tidak tahu apa-apa tapi terkena imbas isu-isu yang beredar. Siapa tau dia tulang punggung keluarganya. Siapa tahu dia pedagang yang jujur, pake daging sapi. Siapa tau di cuma mengoplos pake kanji, seperti cireng yang sering kalian beli. Banyak sekali kemungkinannya, nak.

Aku jadi berfikir, dari pada memikirkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri. Sudah bersihkah uang-uang kita yang dipakai membeli bakso itu? Siapa tau itu adalah uang hasil perjalanan dinas fiktif atau dinas luar yang sebenarnya dinas liar yang isinya jalan-jalan melulu, ada uang hasil mark up, sogokan, dan lain-lain. Aku yakin, kalau uang sendiri pasti kita tahu.

Nak, ini cuma semacam renungan saja dari ayahmu. Seorang suami yang tak terlalu suka bakso dan dulu โ€˜terpaksaโ€™ pura-pura suka.

26 responses

  1. oooow ternyata ada buku primbonnya ya..hehe

    iya, kasian juga ya pak si abang baksonya, kena imbasnya, dan imbasnya malah panjang sampe ke keluarganya.

    disini sempet juga ada kejadian gitu pak. Tapi alhamdulillah hanya seminggu sepi nya, karena pengunjung yang setia yakin kalo si abang yg jual 100% daging halal.

  2. Hoho tulisannya kereeen…..

    Banyak orang mempermasalahkan “bakso daging babi” yang diyakini bersama sebagai makanan haram. Padalah, seringkali kita membelinya juga pakai uang “haram”.

    Jadi kalau kita belum yakin benar bahwa uang yang ada disaku kita adalah 100% halal, lebih baik diam. Kasihan tukang baksonya, pedagang yang jujur pasti lebih banyak kan…..

  3. Saya suka bakso musiman om, kalo lagi pengen kyk orang ngidam, tapi kalo lagi ndak pngen ya ndak suka,…
    kdang kita lebih mudah melihat kslhan org lain ya om drpda berkaca, apkah rezeki yg kita dpt bnr2 barokah

  4. Kang mas jg ngga terlalu suka baso, dan krn langsung menikah dan ngga pake acara malan keluar berdua, jd emang jaraaaaaang maem baso berdua hehehe
    *sambil bayangin makan Baso di tengah2 gunung berlapis salju*

  5. Ping-balik: Sunshine Award | My sToRy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s