Terror Keluarga Jerry

Bismillahirrahmanirrahim

Sebulan belakangan ini aku dan 4 orang temanku di teror oleh sekelompok mahluk kecil. Kumbung jamur, tempat kami merajut mimpi di masa depan, di serang secara brutal. Terror yang berdampak fisik dan mental. Baglog-baglog kami hancur, begitu pula perasaan kami. Untung saja semangat kami tidak ikut-ikutan hancur.

Berbagai cara sudah kami tempuh. Dari pakai karbit, perangkap, racun, buah bintaro sampai jangkrik, tapi semuanya tak berhasil menghentikan sepak terjang mereka. Mahluk kecil ini tetap saja menyerang baglog-baglog yang berisi bibit jamur. Seolah-olah iman mereka kuat sekali sehingga tak terpengaruh dengan paket-paket godaan yang kami tawarkan. Paling 1-2 hari saja mereka berpaling, tapi dengan mereka cepat insyaf dan kembali dengan kualitas taqwa yang lebih baik.

Sempat terpikir olehku mungkin mahluk kecil ini dibekali intelegensi lebih oleh penciptanya. Soalnya mereka tahu betul bagaimana caranyaย  menerapkan teknik hit and run dan gerilya di lapangan. Menyerang secara diam-diam dan tidak pernah mau head to head. Menunggu kami tidak ada, untuk kemudian berpesta pora. Jelas sabotase. Melihat kejadian ini, aku jadi mengerti kenapa koruptor identik dengan mereka.

mouse

Satu-satunya nilai plus mereka hanyalah tidak memakan jamur yang sudah tumbuh. Tetapi menurut logikaku yang bodoh ini, soal ini belaku teori sebab-akibat. Bagaimana mungkin jamur bisa tumbuh keluar kalau bibitnya habis digerogoti? Jadi aku mengambil kesimpulan, kebaikan hati mereka untuk tidak menyantap jamur yang sudah tumbuh itu cuma kebetulan tidak doyan saja.

Sebenarnya aku cukup paham, mereka juga butuh makan. Butuh sesuatu untuk menyambung hidup mereka. Aku tahu itu. Tapi maksudku janganlah terlalu rakus. Silahkan makan, tapi seperlunya saja, toh badan mereka tak sebesar ayam. Jangan semuanya digasak. Kalaupun lapar berat, mintalah baik-baik, pasti kami beri. Bukankah indah bila hidup berdampingan dengan saling toleransi? Tapi pemikiranku ini tak pernah bisa kusampaikan pada mereka. Disamping sulitnya mengatur jadwal ketemu untuk berkompromi, terkendala masalah bahasa juga sepertinya.

Akhinya kemarin, kami mencoba jalan lain. Kami buat semacam kerangkeng khusus untuk menyimpan baglog. Ini terpaksa, nak. Terpaksa karena mereka semakin menjadi. Terpaksa, karena kami harus merogoh kantong lebih dalam untuk membeli kawat ayam dengan lubang kecil. Tak mengapa, yang penting aman.

Anak-anakku, mudah-mudahan cara yang kami tempuh kali ini berhasil. Jadi kelak bukan hanya soal keluarganya jerry aja yang bisa aku ceritakan tentang kumbung jamur kami pada kalian berdua, tapi aku berharap bisa menceritakan tentang kisah-kisah indah juga. Hasil panen jamur yang melimpah, misalnya. Semoga.

11 responses

  1. Wah…punya kumbung jamur juga ya ? Setahun lalu aku juga punya budi daya jamur tiram di rumah, lumayan sih ada beberapa ribu baglog…;justru yg jadi kendala malah pihak human marketingya…cash flownya macet…so jadi mandeg !!๐Ÿ˜ฆ

    Nyesek rasanya, padahal aku cocok dg budidaya jamur ini, mudah perawatanya juga cepet laku di pasaran…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s