Yang Penting Halal

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini aku ingin menepati janjiku kepada kalian berdua untuk menceritakan kisah tentang aku yang sempat ngasong waktu kecil dulu. Mudah-mudahan kalian berdua belum ngantuk mendengar ceritaku ini.

Jadi begini nak, dahulu aku hanyalah seorang anak biasa saja, sama seperti kebanyakan anak Indonesia lainnya. Ibuku adalah pedagang kecil yang konsumennya buruh pabrik kayu lapis. Sedangkan ayahku disamping bertani, juga seorang penebang kayu di hutan. Ilegal logging ? Dia menolak disebut seperti itu. Kata kakek kalian, masyarakat perorangan yang mengambil kayu dihutan itu masih pilih-pilih. Harus dua kali lebih besar dari diameter drum air dan tidak berlubang di bagian tengah. Berbeda dengan perusahaan HPH yang tidak pandang bulu. Semua dibabat habis. Tanpa sisa.

Orang tuaku tinggal disebuah desa kecil di kabupaten Kutai Kartanegara yang besebelahan dengan kabupaten tempat kita tinggal sekarang. Setiap tahun di ibukota kabupaten tempat kakek dan nenek kalian berdua itu diadakan acara adat yang di namakan erau. Biasanya seminggu lamanya. Acara ini dirangkai dengan pesta rakyat. Banyak orang dari luar kota berdatangan untuk melihat acara tersebut. Jadilah jalan raya di depan rumah kakek dan nenek kalian padat saat acara tersebut berlangsung.

Tak jauh dari rumah orang tuaku, ada sebuah SPBU, yang sekarang sudah gulung tikar. Aku dan teman-temanku sering bermain disitu karena terdapat taman yang cukup luas. Selama acara erau berlangsung, SPBU tersebut dipenuhi oleh kendaraan yang mengular untuk membeli bahan bakar. Suatu ketika, aku sedang asyik bermain, aku di panggil oleh seorang supir salah satu kendaraan yang sedang mengantri. Dia kehausan rupanya dan bertanya apakah disini ada yang berjualan minuman dingin. Aku menggeleng. Dia pun sepertinya agak kecewa.

Pulang dari situ aku menceritakan kejadian itu pada nenekmu. Disinilah aku membuktikan sendiri insting dagang nenek kalian. Menurutku dia tidak kalah dengan para bimbingan pakar-pakar pemasaran sekarang. “Apa kau mau berjualan es ?” Tanya ibuku. Waktu itu langsung ku-iya-kan saja. Tanpa pikir panjang. Asal kalian tahu, aku sudah punya pengalaman soal ini. Meski belum expert, tapi aku pernah berjualan jajanan kampung dan es lilin secara berkeliling.

Esoknya, nenekmu membuat minuman es sirop yang dikemas dalam plastik sebanyak 25 bungkus. Kemudian minuman-minuman itu tampung ke dalam sebuah baskom yang aku junjung di atas kepala dan kubawa ke SPBU. Tahukah kalian, tak sampai 10 menit jualanku ludes. Akupun berlari pulang dengan hati riang dan minta dibuatkan lagi pada ibuku. Siklus ini berulang terus sampai menjelang magrib. Seingatku lebih dari 10 kali aku PP rumah-SPBU itu. Kejadian ini berulang lagi esok harinya, cuma volumenya berkurang, karena beberapa teman mengikuti jejakku.

Sejak saat itulah aku mulai ngasong nak. Sepulang sekolah aku langsung nongkrong ke SPBU. Dari berbagai permen, minuman gelas sampai buah salak dan jeruk pernah aku jual. Hasilnya lumayan, kalau lagi ramai, aku bisa mengantongi lebih dari seratus ribu sehari. Dan semua hasil yang aku peroleh aku serahkan ke ibuku.

pengasong

Ada banyak cerita selama aku ngasong, nak. Diantaranya, jempol kakiku yang imut-imut pernah dilindas ban mobil pick up yang berisi muatan orang yang akan pergi tamasya. Jariku juga pernah terjepit pintu mobil. Kalau lecet-lecet mah sering kudapat, terjatuh karena mengejar bis dan bersenggolan dengan sainganku yang lain. Yang jelas nak, aku dapat pelajaran bahwa memang butuh kerja keras untuk mendapatkan rezeki.

===

Begitulah nak, asal-muasal aku ngasong sekitar 20 tahun lalu. Tapi bukan cuma ngasong aja yang pernah aku lakukan. Aku juga pernah jadi tukang parkir sebuah pasar malam. Nak, aku tak tahu kelak kalian berdua berada di jaman apa, yang jelas jamanku sekarang sulit mencari pekerjaan. Jadi jika kelak kalian berdua agak kesulitan, tak ada salahnya kalian mencoba sesuatu yang terkadang mungkin dilihat dengan sebelah mata oleh mereka yang merasa tengkorak kepalanya lebih tinggi.

Tidak mengapa, nak. Yang penting halal.

Asal kalian tahu, para pengasong, tukang parkir, pemulung dan profesi-profesi pinggiran itu lebih mulia dari pada orang kaya dan berkecukupan yang mendapatkan hartanya dengan cara memperdaya orang lain.

16 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s