Jangan membenci kami

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu, ketika aku tahu ibumu dinyatakan positif hamil oleh sebuah alat kecil seharga tak lebih dari 10 ribu rupiah, aku sangat bahagia sekali. Akhirnya terjawab sudah pertanyaan besarku selama ini. Pertanyaan yang sering beredar di kalangan bujangan sampai pengantin baru. Kelak apabila sampai waktunya, kalian akan ketemu dengan pertanyaan ini.

Selama hamil kau, kakak abi, ibumu menderita semacam syndrom hamil muda. Dia tidak mau makan dan tidak bisa mencium bau yang aneh-aneh, meskipun itu bau masakan. Ibumu hanya bisa berbaring lemah dikamar, cuma minum air putih dan sedikit Buavita.

Aku ingat, ini berlangsung selama dua bulan. Aku bingung sekali, nak. Aku tak bisa apa-apa. Yang bisa kulakukan paling memijit kaki dan kepalanya. Sekedarnya. Padahal aku ingin sekali ibumu membagi rasa sakitnya padaku agar bisa mengurangi bebannya. Kesana-kemari aku bertanya obat sakit ibumu, tapi tak kunjung ketemu. Google? Sudah, nak, tapi tak juga memberikan jawaban yang pasti.

Menjelang bulan kelima, ahirnya ibumu mau dibawa kerumah sakit. Itupun semata karena kondisi fisiknya yang sangat lemah. Alhamdulillah, setelah 1 hari menginap, syndrom itu berangsur hilang. Waktu itu aku sempat berfikir, mungkin karena pengaruh AC dan sedikit infus yang membuat ibumu sembuh. Adapun kau, acing, ibumu tak menemui kesulitan berarti. Dia enjoy saja selama mengandungmu.

Menjelang bulan keenam, aku membawa ibu kalian ke Dokter kandungan. Aku sengaja mencari dokter terbaik di kota ini. Meski konsekuensinya aku harus merogoh kantong lebih dalam dan mengantri lama. Aku ingat, kami berhadapan dengan dokter itu menjelang dini hari. Tak mengapa, nak, demi kalian berdua. Saat itu, aku begitu takjub melihat kalian berenang-renang di perut ibumu. Aku bahagia, kalian berdua terlihat normal dan aman di sana.

Hari ketika kalian lahir waktunya hampir sama, dini hari. Prosesnya pun sama, yang beda adalah tempatnya. Sebagai suami yang baik, aku langsung mengantar ibumu ke rumah sakit ketika dia merasa sakit yang berlebihan pada perutnya. Aku pun menemani ibumu jalan-jalan di halaman klinik sambil menunggu pembukaan rahimnya sempurna. Seperti setelah kami menikah dulu, kami berjalan bergandengan sambil bicara soal nama kalian berdua. Sesekali ku elus perut ibumu, tempat kalian bergelayut manja.

Ibumu mengerang hebat saat kalian di paksa keluar. Aku berdoa sambil terus menyemangatinya dengan menggenggam tangannya. Aku bersyukur, kalian berdua dan ibumu sama-sama selamat. Setelah persalinan, aku mencari madu untuk makanan pertama kalian. Untunglah masih ada warung yang buka dan menjual Madu Rasa. Paginya, aku disibukkan dengan mencuci kain-kain penuh darah dan menguburkan ari-ari kalian dirumah kontrakan kita.

Setelah lahir, kalian tumbuh dengan kasih sayang kami. Aku selalu berdoa agar kalian berdua baik-baik saja. Kami โ€“aku dan ibumu- akan selalu mengalah demi kalian. Kami pernah mengajak kau, kakak abi, berkeliling kota jam 2 pagi hanya untuk membuatmu terlelap karena kau rewel dan tak kunjung tidur dirumah. Aku harus tidur di lantai selama berbulan-bulan, mengalah, karena kasur kita tidak cukup untuk berempat. Apalagi kalian berdua menganut gaya free style saat tidur.

Berbagai gaya menggendong aku terapkan supaya kalian berdua merasa nyaman. Dikiri, kanan sampai depan aku praktekkan. Aku juga mendadak hafal banyak lagu anak-anak sebagai pengiring kalian bobo. Setelah era menyusui terpaksa diakhiri, ibumu rela bangun tengah malam buta untuk membuatkan susu, ketika kalian memintanya. Bukan cuma sekali, nak, tapi kadang berkali-kali dalam semalam. Bahkan dia rela menghisap cairan di hidung kalian saat kalian terserang pilek. Tanpa rasa jijik.

Begitulah nak, sebagian bukti bahwa aku dan ibumu mencintai kalian. Kami sangat menyayangi kalian berdua. Jadi nak, jika suatu saat nanti โ€“aku berdoa semoga tidak akan pernah- kita berselisih paham, janganlah kalian membenci kami. Jika memang kami yang salah, cukup kalian marah dan janganlah sampai membenci. Aku pernah membaca sebuah kata bijak, marah itu ibarat sebuah titik dan benci ibarat sebuah garis. Selain itu nak, aku percaya, marah adalah perlambang rasa mencintai.

26 responses

  1. Itulah pengalaman indah sebagai orang tua baru…kurasa hampir semua orang tua di dunia ini. mengalami hal yang hampir sama…๐Ÿ™‚

    Menikah, pengalaman kehamilan yang menakjubkan, mendampingi tumbuh kembang buah hati yang menyenangkan…hingga mengantar mereka menuju kesuksesan hidup di dunia dan akheratnya..๐Ÿ™‚

  2. Justru ketika saya jadi orang tua… di saat itulah saya juga mengingat orang tua saya sendiri. Ternyata menjadi orang tua itu berat… dan saya baru merasakanya. Dulu ketika bujang tidak tahu ini, karena saya masih anak dari orang tuaku sendiri… tapi sekarang ketika sudah berkeluarga dan punya anak baru merasakan apa yang dirasakan orang tuaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s