Seujung kuku pun tak ada

Bismillahirrahmanirrahim

Idul adha kemarin kita pulang ke kampungku. Ini bukan kunjungan balasan, setelah tahun lalu kakek dan nenekmu datang menjenguk kita. Tapi ini adalah tebusan, setelah idul fitri kemarin kita sekeluarga tidak mudik. Oh ya, Lebaran kurban kali ini juga merupakan sejarah dalam hidup kita, yakni aku membawa kalian berdua sekaligus shalat ied di halaman masjid dekat rumah kakek kalian. Meski disela-sela khotbah kalian kadang bercanda, overall misi kali ini terhitung sukses. Jempol buatmu acing, yang sudah mulai bisa menguasai diri.

Nak, aku ingin berbagi cerita dengan kalian. Dahulu, ketika aku kecil, saat hari raya idul adha tiba, aku sering mendapatkan kertas kecil yang dibagikan pengurus masjid. Kertas ini dapat ditukar dengan satu bungkus daging, nak. Nah, daging itu berasal dari hewan kurban yang di sedekahkan oleh warga sekitar masjid. Jika kalian berumur panjang dan suatu saat sempat melihat proses dari hewan menjadi bungkusan daging itu, kalian akan melihat satu peristiwa unik. Yaitu ketika hewan -yang kuingat sapi- tersebut akan disembelih, sapi itu terlihat mengeluarkan air mata. Menangis. Rata-rata anak-anak seusiaku dan para wanita tak tega dan sedih kalau melihatnya.

 

Jika kalian kelak melihat itu, jangan vonis bahwa agama kita tidak berperasaan dan tidak punya belas kasihan. Terus terang nak, aku pun bingung menjelaskan apa pada kalian berdua. Sungguh aku tak tahu pasti. Tapi kucoba menafsirkannya, sapi itu menagis bukan berarti dia sedih dan menderita, tapi mungkin dia bahagia. Kalian tidak percaya?! Coba kalian perhatikan, ada orang yang bahagia sampai mengeluarkan air mata. Jadi sapi itu bahagia karena akan bertemu Tuhannya dan bahagia dikurbankan karena atas perintah Penciptanya. Tapi itu cuma analisisku saja, jangan kalian percayai lagi ketika kelak kalian menemukan jawaban yang lebih sahih.

Yang pasti nak, perintah berkurban kepada seorang ayah yang bernama Ibrahim itu tidak mungkin salah, sehingga kita disuruh mengikutinya. Malah beliau dulu disuruh Allah mengorbankan anak laki-lakinya, Ismail. Alhamdulillah Allah menggantinya dengan seekor domba.

Kalau ingat cerita itu, aku selalu bersyukur, nak. Coba kalian bayangkan, apa yang terjadi andai dulu Allah tidak mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba? Nak, aku seorang ayah dan kalian berdua anak laki-laki. Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seorang ayah yang bernama Ibrahim dan anak yang bernama Ismail pada cerita itu. Seujung kuku pun kita tak ada.

Sumber gambar dari sini

28 responses

  1. emang kasihan sih mas๐Ÿ˜ฆ
    tapi saya kok nggak lihat ya sapinya nangis,,mungkin kejauhan kali karena saya juga nggak berani dekat2 penyemblihan nya mas๐Ÿ™‚
    mudah2n sapi2 yg ikut kurban kemaren skrg udah tersenyum bahagia disana๐Ÿ˜†

  2. dari penelitian yang pernah saya baca di kaskus, bahwa hasil perbandingan metode penyembelihan hewan dengan dibius lalu di euthanasia, hasil scan otak hewannya menunjukkan bahwa yang disembelih seolah-olah tertidur tanpa menunjukkan rasa sakit. sementara yang dibius sebaliknya.
    dan darah yang mengalir keluar dari luka penyembelihan itu memang sebuah mekanisme yang dilakukan oleh jantung untuk memeras semua darah yang ada di dalam jaringan tubuh sehingga nantinya tidak ada darah yang tersisa dalam daging yang bisa mengakibatkan penyakit.
    wonderfull qurban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s