Jadilah Jawaban atas Doa Kami

Bismillahirrahmanirrahim

Kakak abi, besok kau genap berusia 5 tahun. Ya, sama dengan jumlah jari sebelah tanganmu. Sebuah jumlah yang sudah bisa kau hitung dari angka 1 pada usia 1,5 tahun. Sebuah angka yang juga menunjukan jumlah salah satu rukun agama kita. Aku tau, memang itu belum sebanyak nomer punggung kaos bola Barcelona milikmu yang bertuliskan ‘INIESTA‘ di atas angkanya, maupun kaos bolanya adikmu acing -yang bertuliskan ‘RONALDO’– tapi menurutku dengan umurmu sekarang, kamu termasuk anak yang hebat.

Aku dengar dari ibumu, bahwa kau sering di puji oleh guru di sekolahmu. Gambarmu hampir selalu menghiasi papan kegiatan kelas semangka, sehingga jadi pernah bahan obrolan orang tua teman sekelasmu. Kamu juga tidak main-main ketika kuajak shalat berjamaah di masjid. Kemudian, tinggal beberapa lembar lagi kau sampai di jilid 4 buku Iqro’ dan sudah mulai bisa membaca kata-kata sederhana. Itu semua adalah sederet alasan kenapa kau kubilang hebat.

 

Dan begitu superiornya dirimu, kau dalam banyak hal jadi referensi sekaligus kiblat acing, sehingga tak jarang adikmu itu mengcopy-paste apa yang kamu lakukan. Bahkan dalam beberapa kali diskusi antara aku dan dia, dia bilang ingin jadi dirimu. Terus terang, aku agak senang mendengar jawabannya. Meskipun, harusnya dia jadi dirinya sendiri, tapi setidaknya itu menunjukan bahwa dia respek dan menghormatimu. Aku justru akan merasa was-was jika dia ingin jadi tokoh kartun favoritnya, seperti jadi Piccolo di film Dragon Ball misalnya. Kalau itu yang terjadi, pasti aku tegur dia.

‘Kenapa kakak abi ga pernah (merayakan) ulang tahun?’ tanyamu padaku ketika mendapat undangan dari teman-temanmu atau ketika melihat acara ulang tahun. Ketika kau bertanya seperti itu, aku selalu menjawabnya sekenanya saja, yang mungkin tak memuaskanmu. Tapi kali ini akan kujelaskan padamu. Aku dan ibumu memang tak pernah merayakan miladmu. Bukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi kami ingin mendidikmu untuk belajar bersyukur yang baik, bukan dengan sesuatu yang bersifat sia-sia.

Nak, perayaan hari jadi seperti itu kadang malah hanya jadi ajang gengsi orang tua, sehingga seakan-akan orang tuanya lah yang berulang tahun bukan sang anak. Orang tuanya yang heboh, padahal sang anak belum mengerti apa-apa. Belum lagi kalau di hubungkan dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi yang terpenting nak, acara seperti ini bukan tuntunan dan tidak pernah dicontohkan pada agama kita.

Mungkin kamu tidak mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti ketika kau membaca ini, aku harap kau akan mengerti. Sama seperti mengertinya bapakmu ini sehingga dapat mengambil ibroh dari sebuah hari lahirku sendiri dan menulisnya disini dan disini. Tapi tentu saja aku berharap kamu tak setelat aku untuk mengerti.

Ahirnya, selamat milad kakak abi, Muhammad Nabil Asy-Syawal. Jadilah jawaban atas semua doa-doa kami untukmu.

24 responses

  1. Selamat ulang tahun kakak Abi, semoga اللّهُ senantiasa membimbingmu, mendampingimu, dan meridhoimu dalam setiap langkah menjalani takdir terbaikmu. آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

  2. ih hebat deh si kakak. anakku pecatat pecetat mas tingkahnya…
    aku juga ga pernah ngerayain ultah mereka. kebagian ngasih kado terus nih karena cuman diundang. setuju banget ultah cukup diisi perenungan aja bukan pestah

  3. selamat milad kakak abi..
    jadilah anak yang hebat, membanggakan ayah bunda dan menjadi contoh dan teladan yang baik buat si acing ya..
    semoga menjadi seperti yang ayah bundamu harapkan..menjadi jawaban untuk setiap do’a mereka aamiinnn…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s