Who Am I ?

Bismillahirrahmanirrahim

Tadi pagi sebelum ngantor, entah mengapa aku bercermin. Padahal biasanya aku hampir tak pernah ngaca. Paling banter rambutku cuma disisir jari. Seperti kalian berdua tahu, aku memang orangnya agak sembarangan. Maksudnya tidak terlalu memperdulikan penampilan. Sampai terkadang ibu kalian menegurku karna melihat penampilanku yang sembrono. Kalau dia sudah begitu, dengan agak terpaksa aku menurutinya. Soalnya kalau tidak diindahkan dia bisa merajuk nak, dan jika sudah merajuk agak sulit membuatnya normal kembali. Satu porsi martabak kesenangannya pun kadang tidak mempan. Kalau sudah begini nak, terpaksa aku harus membuka-buka lagi kamus jaman aku muda dulu. 1001 tutorial cara menaklukkan hati wanita, judulnya.

Kalau mau ditelusuri, sebenarnya sifatku yang kurang begitu memperdulikan penampilan ini dimulai sejak aku bersekolah di STM dulu. Kalian berdua tau, STM itu muridnya laki-laki semua dan terkenal bandel-bandel. Bersekolah disitu, makin kita terlihat slenge’an, makin terlihat keren di mata anak-anak lain. Sebaliknya kalau tampil rapi maka akan di cap feminim dan di golongkan ke kumpulan anak-anak OSIS yang memang terkenal penurut dan dekat sama guru. Sedang aku posisinya di tengah-tengah nak. Tidak ekstrim banget tapi tidak juga rapi. Gambaran seorang pemuda tanggung yang tidak punya pendirian  dan masih mencari jati diri.

Setelah lulus, aku diterima di Politeknik. Setali tiga uang nak, disinipun mayoritas mahasiswanya laki, sedang kaum hawanya sangat minim. Jadilah style ku saat STM berkembang dan tumbuh dengan subur. Celana jeans belel, kaos kusam ditutupin kemeja tak berkancing yang lengannya di gulung sebatas siku serta rambut gondrong adalah cirri khas anak-anak teknik saat itu, disamping baju praktek yang penuh debu dan oli. Akhirnya nak, gaya cuek selama sekolah dan kuliah terbawa sampai sekarang. Aku jadi terbiasa tak terlalu memperdulikan penampilan. Tapi mungkin lain ceritanya jika dulu aku satu sekolah atau satu kampus dengan nabila syakib atau zaskia adya mecca, misalnya. Aku bisa jamin nak, pasti beda.

Kembali ke soal bercermin nak, setelah ngeles kiri dan kanan laksana anak muda jaman sekarang yang lagi membuat foto narsis, aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin lebih seksama. Ternyata bagian dahiku sudah bertambah luasannya. Masih terdapat bekas jahitan disana, tanda mata kecelakaan saat kelas 1 SD di kampung kakek kalian dulu. Terlihat ada garis samar di samping hidung dan di bawah mata. Seingatku dulu garis ini tidak ada. Kantung mataku juga yang mulai menebal.

Kutatap lagi wajahku. Aku pandangi lurus kedua bola mataku dan masuk kedalam nya. Aku melihat bayangan-bayangan diriku di masa lalu. Bayangan itu terus bergerak seperti tayangan sebuah slide, dari satu kejadian ke kejadian yang lain. Tanpa sadar aku bergumam di dalam hati “inikah diriku?”. Aku tercekat, dan langsung tersadar untuk berangkat ngantor. Sambil naik motor aku merenungi pengalaman dari bercermin tadi. Aku sudah tua rupanya. Begitu banyak hal-hal yang salah dan sia-sia yang seharusnya tidak perlu aku lakukan. Padahal, aku mempunyai tanggung jawab yang sangat besar atas diriku sendiri, kalian berdua dan ibu kalian. Sebuah amanah, yang harus aku pertanggung jawabkan di akhirat nanti dihadapan sang pencipta.

Begitulah nak, kesimpulanku, kalian berdua sesekali harus bercermin. Bukan hanya untuk melihat penampilan, tapi sekaligus sebagai intropeksi diri. Kalian bisa bercermin di mana saja dan pada apa saja. Nak, cermin itu tidak pernah berbohong. Dia selalu jujur tanpa perlu khawatir ada tendensi apapun. Dia bisa menunjukan jati diri orang yang ada dihadapannya seperti apa adanya. Tapi jangan bercermin pada cermin yang rusak, pecah, dan permukaannya tidak rata nak. Yakinlah itu akan menyesatkan kalian berdua.

Bercerminlah nak, siapa tau kalian berdua lupa dengan diri kalian sendiri. Lihatlah diri kalian ke cermin dan tanyakanlah padanya : “Who Am I ?”

27 responses

  1. bercermin..
    dalem sekali ya makna bercermin itu pak, maka doa ketika bercermin itu memang selalu kita tuturkan “Ya Alloh Sebagaimana Engkau membaguskan rupaku, maka baguskanlah akhlakku”
    “Allahumma kama hasanta khalqi fahasin khuluqi”

  2. harusnya wajah close up Bapak dijembreng juga Pak di sini. jadi kita bisa ikut komen sama sama tentang dahi yang melebar, kantong mata dll dll. jadi biar bahasannya lebih objektip Pak. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s