Seragam itu toga namanya

Bismillahirrahmanirrahim

Buku itu tergeletak di atas meja kecil di kamar yang kita jadikan tempat menaruh mainan kalian berdua, lemari buku, arsip-arsip, komputer bekas, printer dan barang lainnya. Besarnya cuma separuh kertas HVS yang sering kalian coret, dan tebalnya selebar jempol tanganmu, acing. Di sampul depannnya tertulis “Buku Iqro, Cara Cepat Membaca Al-Qur’an” dan di sampul belakangnya ada gambar samar seorang kakek-kakek yang sering kalian tanyakan itu kakeknya siapa. Sungguh nak, akupun tak tahu itu kakeknya siapa dan kok bisa dia berpose di buku itu.

Ingatkah kalian ketika pertama kali kuajarkan buku itu? Lucu. itulah komentar kalian berdua ketika melihat isinya. Awalnya kalian tidak tahu sama sekali apa yang tertulis di buku itu. Tapi lambat laun kalian mulai bisa mengenali, hafal hingga sedikit-sedikit bisa membacanya. Kini, kakak abi, kau sudah dijilid 3, sedang kamu acing, kau baru menyelesaikan beberapa lembar setelah jilid 2. Singkatnya, kalian berdua sekarang sudah tau huruf arab. Ketahuilah nak, pengetahuan kalian itulah yang namakan ilmu.

Sebenarnya kalian berdua sudah punya ilmu. Ilmu yang kalian dapat dari bersekolah di atas kasur, di gendongan ibumu, di teras, di tempat tetangga, pokoknya dimanapun kalian berada. Ilmu yang diajarkan oleh guru-guru seperti aku, ibumu, kakek, nenek, orang-orang yang kalian berdua pernah temui, bahkan dari benda mati. Tapi itu belum cukup, nak. Kalian harus terus belajar. Ilmu itu sangat penting nak. Allah sendiri dalam surahAl Isra’ ayat 36 bilang gini “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya mengenainya”. Ayat inilah yang mungkin membuat Imam Bukhari berpendapat, ilmu itu sebelum berkata dan berbuat. Sebuah pendapat yang menjelaskan kedudukan ilmu.

Omong-omong soal buku, terus terang nak, sama seperti kalian, akupun sedang mempelajari sebuah buku. Isinya tentang pertanian. Buku yang aku geluti selama kurang lebih sama dengan umurmu sekarang, kakak abi. Terkadang aku meninggalkan kalian bersama orang yang melahirkan kalian selama berhari-hari bahkan bisa bermingu-minggu, demi bisa segera menyelesaikankannya. Kalian tahu, jilid terakhir dari buku itu sangat sulit nak. Jatuh bangun aku dibuatnya karena harus membagi waktu antara dia, kalian dan pekerjaan. Sering sekali aku terpaksa tiarap, untuk sekedar menyeka keringat ataupun mengatur siasat. Ahirnya, meski tertatih, aku sekarang berada di lembar terakhir buku itu. Tapi aku tak sendirian nak, ada orang-orang lain sepertiku. Orang-orang yang ketika awal belajar buku itu baru lulus SMA.

Insya Allah nak, buku itu besok aku khatamkan. Besok. Ya, besok. Syaratnya, aku dan orang-orang muda itu diharuskan mengikuti sebuah ritual dengan memakai seragam khusus berwarna hitam. Seragam berupa jubah, mirip yang kupakai ketika shalat, tapi lebih panjang. Mirip harry potter tanpa tongkat sihir jika aku memakainya. Oh ya, seragam itu dilengkapi sebuah topi yang mempunyai sebuah tali menjuntai di atasnya. Nak, seragam itu toga namanya.

28 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s