Menikmati senja

Bismillahirrahmanirrahim

Apakah kalian berdua ingat sebuah gubuk yang pernah kita datangi bersama ibu kalian? Gubuk kecil tapi kokoh yang terletak di tengah sawah, yang kita kunjungi kala sore hari. Tiangnya tinggi, sedang atapnya dari seng. Sebuah tangga terpasang di depan gubuk itu. Tangga yang sering kalian berdua panjat. Gubuk itu juga mempunyai lubang di bagian depan yang berfungsi sebagai pintu, dan di bagian belakang sebagai jendela. Gubuk sederhana tapi bersahaja.

Entah siapa pemilik gubuk itu. Akupun tak pernah bertemu dengannya. Mungkin milik seorang petani yang mempunyai lahan di areal persawahan itu. Siapa pun pemiliknya, yang jelas dia orang baik, nak. Setidaknya pada kita. Dia biarkan kita sekeluarga sering ke tempat itu. Tempat dimana kita bisa melihat hamparan sawah yang luas, burung-burung yang bermain di batang padi, bahkan melihat kecebong yang saling berkejaran di parit. Kita juga bisa merasakan segarnya udara tanpa debu, suasana yang tenang dan tentram, sekaligus bisa menikmati lukisan indah sang penguasa alam kala matahari tenggelam.

Jadi nak, jika kelak kalian dewasa, buatlah gubuk seperti itu di kehidupan kalian berdua. Gubuk kecil sederhana yang bisa menjadi tempat yang nyaman, damai sekaligus menyenangkan. Tempat yang kalian tuju ketika pulang. Tempat dimana kalian bisa bermain, bercanda dan bercengkrama bersama keluarga, sembari menikmati senja.

19 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s