Pesawat pun sanggup kau beli

Bismillahirrahmanirrahim

Kakak abi dan acing, kali ini bapak akan menceritakan sebuah kisah tentang seorang pedagang asongan di kampung bapak dulu. Pada waktu bapak masih duduk di sekolah dasar, ada seorang pedagang asongan yang di panggil gendut, entah siapa nama aslinya, yang jelas orang-orang memangilnya begitu, mungkin dikarenakan tubuhnya yang lumayan tambun. Dia tidak bersekolah, dan tinggal bersama ibunya. Aku sendiri tidak pernah menanyakan dimana bapak si gendut berada atau kemana perginya.

Si gendut ini berjualan di POM bensin yang berada dekat rumah kakek kalian. Dia berjualan permen, minuman dan terkadang buah-buahan. Setiap hari dia berjualan dengan rajin, meski hujan ataupun panas, dia kekeuh berjualan. Sebuah kopiah butut melindungi kepalanya agar terhindar dari panasnya matahari, dan kopiah itu dilapisinya dengan plastik hitam apabila hujan turun.

Suatu hari aku tak sengaja melihat dia menghitung penghasilannya dan kemudian menyisihkan beberapa ribu rupiah yang ia selipkan di topi kopiahnya itu. Ketika kutanya buat apa ia melakukan itu, dia sambil tersenyum menjawab itu ia kumpulkan supaya kelak dia dan ibunya bisa pulang ke jawa. Aku langsung tertawa agak sinis mendengar jawabannya. Mana mungkin dengan cuma beberapa ribu rupiah bisa pulang ke jawa pikirku. Kemudian aku pun meninggalkannya sendirian.

Hari demi hari pun berlalu, dan si gendut tetap rajin menyisihkan penghasilannya setiap selesai berjualan. Ahirnya tak terasa bulan ramadhan pun tiba. Selama bulan puasa tak ada anak-anak yang ngasong. Semua libur. Setelah beberapa hari pasca lebaran, aku ga menemukan si gendut di POM bensin dimana kami biasa mangkal. Tungu dulu, kami?! Benar nak, kalian tak salah membaca. KAMI. Ya, bapakmu yang keren ini dulu juga pernah jadi pedagang asongan, ketahuilah nak, ngasong is not crime! Tapi soal ini tidak akan aku ceritakan sekarang, lain kali saja ya?! Baiklah, karena tidak ketemu selama beberapa hari, aku pun bertanya teman yang rumahnya dekat kontrakan si gendut. Ternyata si gendut mudik ke jawa bersama ibunya. Subhanallah nak, ahirnya cita-cita si gendut untuk pulang ke jawa kesampaian. Terus terang, aku malu nak, karna pernah menertawakan impian si gendut.

Begitulah nak, cerita tentang hebatnya menabung. Kenapa kita perlu menabung?! Jawabnya sederhana nak, karna kita tidak kaya raya. Itu saja. Untuk kalian berdua ketahui, sebenarnya aku ingin sekali membelikan kalian gadget yang layarnya bisa digeser-geser pakai tangan, seperti yang sering kau –acing- peragakan dengan mengibas-ngibaskan tanganmu. Sering kubaca di media-media, mengajari anak dengan alat seperti itu sangat bagus. Mudah nangkapnya, kata teman ibumu. Tapi harganya mahal. Jutaan. Kalau tidak menabung, sepertinya sulit keinginanku itu bisa terwujud.

Menurut pemahaman bapak kalian ini, dengan menabung kita bisa belajar bersabar, sehingga tidak menuruti hawa nafsu dan bisa terhindar utang. Ada pepatah arab mengatakan, nafsu itu seperti bayi yang menyusu, jika kita tidak tegas menyapihnya, ia akan tumbuh besar dan sulit dilepaskan dari susuan. Aku tak membantahnya, karna aku tahu betul ketika kau berumur 2 tahun, kakak abi. Kami terpaksa membohongimu untuk berhenti menyusu. Apa kau masih ingat rasa balsem itu? Hehe.

Jadi nak, aku ingin mengajari kalian untuk menabung. Aku sudah belikan 2 buah celengan. Sesuai permintaan kalian berdua, satu besar dan satu lagi kecil. Tabungan yang terbuat dari kaleng yang punya lubang kecil di bagian atasnya untuk memasukan uang. Memang bukan seperti kopiahnya si gendut, tapi kalian jangan khawatir, itu juga bisa menyimpan uang.

Aku masih belum lupa, tentang impianmu, kakak abi. Dulu ketika kutanya kau ingin beli apa kalau uangmu ada banyak, kau bilang ingin beli mobil. Bukan mobil mainan, tapi mobil betulan. Supaya tidak kehujanan lagi kalo kita lagi jalan-jalan ke tempat kakek jelasmu. Alasan yang menurutku 11-12 dengan impian si gendut ketika aku kecil dulu. Insya Allah nak, kalau tabunganmu sudah banyak, jangankan mobil nak, pesawatpun sanggup kau beli.

15 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s