TNK : Tanah Nenek Kami ?

Iseng-iseng blogwalking dan googling, eh ga tau knapa saya tertarik soal Taman Nasional Kutai (TNK), soal sejarahnya, perkembangannya hingga kondisinya sekarang. Hari gene baru ngeh soal lingkungan?! Udah telat kale😀 whatever in your mind, yang jelas saya mau share my opinion about Kutai National Park itu.

Ada banyak situs web mengulas soal TNK, seperti disini dan disini kemudian disini. blom lagi blog-blog pribadi yang kadang memposting soal TNK. Artinya perhatian khalayak cukup besar soal TNK.

Dulu saya sempat kaget ketika beberapa tahun lalu ketika ada sekelompok orang menduduki TNK di sepanjang jalan sangatta – bontang, mereka membangun rumah dan bercocok tanam, mengikuti kelompok lain yang telah lebih dulu bermukim disana. Mereka ngancem apabila mereka diusir, maka kelompok yang udah lama ngetem disitu juga harus angkat kaki, serem juga dengernya.

Kebetulan saya dikampus berteman dengan beberapa orang yang sekarang nongkrong di TNK. Sambil becanda saya bilang : lo perusak lingkungan, perusak utan, ga tau peraturan,.. #?$&*@#&*%@*.. eh dia bilang yang duluan tinggal disitu (TNK) juga ga ada yang ngelarang..bla..bla.bla.., malah diahir bantahannya dia sempet canda bahwa TNK itu artinya Tanah Nenek Kami😉, jadi mereka merasa berhak dsitu.

Pernah juga saya denger ada orang bilang gini : Pilih mana, monyet yang idup atau manusia yang idup? what the hell?! Supaya seolah-olah manusia boleh menetap di TNK. Itu pilihan ngaco, karena ketika anda memilih, berarti anda dan monkey statusnya sama sehingga layak dijadikan sebuah pilihan. very ironic. Monyet itu bodoh – manusia itu pinter, makanya manusia kudu mikir supaya bisa hidup bukannya ngambil tempatnya monyet yang ga bisa mikir. Kaya ga ada tempat laen ajah..

And what the government choice? tentu aja mereka milih manusia ketimbang monyet😦, pilihan yang populer dan terlihat sangat manusiawi. Pilihan yang menguntungkan dari segi ekonomis dan (tentu saja) politis. Buktinya mereka buat desa sekaligus kecamatan dsitu, buat fasilitas umum, seolah-olah mereka melegalkan orang-orang yang netap di TNK. Mereka yakin dengan jurus pamungkas enclave semua bisa diatasi. Harusnya kalo ga bisa ngelarang mbok ya jangan menyuruh. piye toh?!

Mungkin sekarang enclave adalah obat mujarab, tapi sampe kapan bisa bertahan? Apa yakin masyarakat ga merambah lahan yang ga di enclave? Wong blom dienclave aja bisa dirambah, apalagi udah pernah di enclave, paling juga ntar di enclave lagi pikir mereka. Klo itu terjadi TNK akan mati pelan-pelan. Trust me. It works.

Seharusnya TNK bener-bener bisa menjadi National Park yang terjaga dan terlindungi. Bukan hanya sekedar nama tapi nyatanya luas dan isinya terus mengalami degradasi karena digerogoti dengan alasan humanity. Harusnya kita sebagai manusia memutar otak lebih keras dalam mengatasai masalah (manusia), bukan membuat short cut dengan merusak lingkungan yang ada.

TNK bukan sekedar Tanah Nenek Kami, tapi Tanah Nenek Kita (semua)..

PS :

Buat orang-orang membuat TNK rusak : you’re so suck dude.

Buat orang-orang yang selalu menjaga dan melindungi TNK : don’t give up, keep moving on, ganbatte!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s