Matematika yang Salah

Bismillahirrahmanirrahim

Belakangan ini kita sekeluarga agak jarang jalan-jalan keluar rumah secara bersama-sama. Paling-paling cuma ke rumah kakek-nenek kalian atau ke taman kota yang dekat rumah. Kebanyakan kita pergi keluar minus ibumu sama nadya, kita berempat tanpa ibumu atau sebaliknya. Ya nak, 1 motor udah gak muat untuk kita. Dede nadya udah lumayan besar. Jadi sekarang kalau mau kemana-mana harus pake 2 motor, dengan kombinasi 2 – 3. Nah, ibumu agak –sedikit- keberatan kalau harus berpisah-pisah seperti itu. Katanya seperti bukan seperti satu keluarga utuh saja. Sering juga kita miskomunikasi di perjalanan, jadi sering tunggu-tungguan atau terpisah rute. Belum lagi kalau tempat tujuan yang lumayan jauh, agak rentan bagi anak seperti dede nadya. Resiko panas, hujan dan debu pasti ada.

motor

Betul nak, dengan kondisi seperti sekarang, idealnya sih kita punya mobil. Biar enak mau kemana-mana. Kalian sering bercerita –mungkin membandingkan tepatnya- padaku dan ibumu tentang teman-teman kalian di sekolah yang punya mobil, dimana pekerjaan orang tuanya itu sama seperti kami, abdi negara. Kalian cerita bahwa teman-teman kalian itu begitu senang dengan liburan bersama keluarganya, jalan-jalan, dan lain-lain. Terlihat sekali dari raut wajah kalian bahwa kalian begitu iri dengan mereka. Aku beri tahu kalian ya, sebenarnya aku dan ibumu pun iri dengan mereka. Terus terang, kami berdua pun ingin punya mobil. Tapi keadaan keuangan kita lah yang membuat kami gak bisa mewujudkan keinginan itu.

Baiklah, akan kujelaskan kepada kalian supaya kalian bisa mengerti keadaan kita. Jadi aku dan ibu kalian ini adalah pegawai negara dengan pangkat rendahan sejak sekitar 11 tahun lalu. Secara kebetulan, waktu itu kami lulus bersama-sama setelah berkompetisi dengan ribuan orang lain yang menginginkan pekerjaan ini. Sudah lumayan lama memang, malah beberapa rekan satu leting kami yang udah jadi pejabat. Mungkin kalian bertiga nanti akan bertanya, kalau begitu kenapa kita gak bisa beli mobil? sementara ada orang yang masa kerjanya di bawah kami bisa. Pasti kalian akan berfikir ada yang salah dengan ilmu matematika kami atau –ini yang ekstrim- kalian menyimpulkan kami tak pandai mencari uang.

Begini nak, dari sisi income, tidak ada yang wow dari kami. Aku dan ibumu hanya mengandalkan pekerjaan sebagai pegawai semata. Tak ada yang lain. Asal kalian tau, kami ini hanya pegawai keroco alias cuma staf dengan pangkat biasa-biasa saja. Dengan kondisi anak 3 orang yang sudah mulai sekolah, penghasilan kami hanya masuk kategori “cukup” yang cenderung “pas-pasan”. Sementara mobil itu menurutku adalah barang yang dimiliki orang yang penghasilannya berkategori “lebih” kalau fungsinya hanya untuk angkutan keluarga semata.

Jadi secara teori, agak musykil rasanya kami jadi orang “berlebih” hingga dapat membeli mobil yang harganya ratusan juta, jika hanya mengandalkan pekerjaan kami ini. Apalagi aku dan ibumu adalah tipe orang yang tidak berani “bermain-main” di tempat kami bekerja hingga bisa menambah penghasilan. Bukan apa-apa nak, kami takut kalau misalkan hasil dari “main-main” itu berpotensi haram, terus itu mengalir dalam darah dan menjadi daging kalian bertiga. Orang tua macam apa kami ini nak, jika seperti itu. Kami yang berbuat tapi melibatkan kalian yang gak tau apa-apa.

Mungkin memang ada yang salah dengan cashflow keluarga kita, aku dan ibumu menganut paham “flow like water” dalam mengelola keuangan rumah tangga. Tak ada pos-pos anggaran ataupun list daftar kebutuhan bulanan yang jadi ciri khas manajemen yang baik. Pada kami, semua jadi satu, gelondongan. Ada perlu ya dipake, ada yang pinjam kasih kalau ada, pas lagi gak ada ya sabar. Terkesan seperti tanpa perencanaan masa depan, tapi itulah kami. Hal ini bukan karena uang kita banyak nak, tapi lebih karena faktor simpel semata. Btw, insya Allah kedepan, kami akan memodifikasi sistem ini. Kemarin ibumu berencana untuk membuatkan tabungan khusus untuk kebutuhan kalian kelak, yang isinya -sebisa mungkin- tidak boleh diganggu gugat. Jadi kami akan menyisihkan sedikit (baca : semampu kami) dari penghasilan kami berdua. Mudah-mudahan rencana ini segera terealisasi.

Jadi setelah kujelaskan di atas, jangan pula lantas kalian su’udzon sama pegawai lain yang sudah punya mobil. Barang kali pegawai itu emang turunan orang kaya atau punya usaha sampingan yang untungnya banyak. Bisa jadi juga dia hidup berhemat dan rajin menabung atau dia pegawai yang punya jabatan dengan gaji tinggi. Ada banyak kemungkinannya nak. Mungkin juga dia meminjam uang ke Bank dengan menjaminkan SK nya. Kalau yang terahir ini aku gak berani nak, karna katanya ini bisa jadi riba. Yang ku ketahui dosa yang paling ringan dari riba itu seperti menzinahi ibu kandung kita sendiri. Amit-amit, ngeri banget ancamannya.

Jangan pula kalian memvonis bahwa kalian bertiga lah yang menjadi penghalang sehingga kita gak bisa beli mobil. Wajar juga sih jika kalian berfikiran seperti itu. Mengurusi tiga anak memang gak butuh biaya sedikit. Tapi jangan khawatir nak, tiap-tiap anak itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Insya Allah rezeki itu pasti ada, asal kita mau berusaha. Terus terang aku dan ibumu emang sengaja berkeinginan punya banyak anak. Jika diberi kepercayaan sama yang Maha Kuasa, kami ingin memberikan kalian adik lagi. Kami yakin, dengan punya banyak anak maka peluang nasib kami lebih baik di alam sana akan semakin besar, sepanjang kami membesarkan kalian dengan baik pula. Jadi semacam simbiosis mutualisme nak, kalian jadi orang bener, kami dapat aliran manfaat dari kalian. Kami membayangkan ketika kami sudah berada di alam sana, kalian jadi anak yang sholeh, terus tangan-tangan kalian menengadah ke atas mendoakan kami. Amin ya Rabb..

====

Akhirnya, mungkin kami berdua emang tak pandai mencari uang nak, tapi aku berharap kepada kalian untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita punya. Kalian tentu masih ingat dengan tulisan ku yang ini kan?! Jadi intinya tetaplah sabar dan teruslah bersyukur, masih banyak orang-orang miskin, anak-anak terlantar, janda-jan.. em.. terlalu mudah ketebak ya.. hehe.

Oia, kalau ada waktu luang, coba kalian googling soal faedah hadist dunia lebih rendah dari bangkai kambing, mana tau bisa jadi bahan pencerahan buat kalian. Mudah-mudahan kalian paham apa maksudku ini. Amin.

*gambar di comot dari sini*