Jadilah Jawaban atas Doa Kami #2

•Mei 6, 2013 • 13 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Kakak abi, aku mohon maaf, kali ini aku hanya berbicara dengan adikmu saja. Bukan berarti kau tidak penting nak, cuma kali ini memang spesial khusus untuk acing saja. Tapi kau boleh mendengarkannya jika ingin.

Acing anakku, 4 tahun lalu, sebelum subuh,  kau lahir.  Sebenarnya aku dan ibumu ingin mengeluarkanmu dari perut ibumu di Rumah Sakit Umum, tapi karena penuh jadilah kau lahir  di sebuah Rumah Sakit bersalin swasta di kota kita. Saat itu, ketika kamu keluar ke dunia, beratmu 3,2 kg dengan panjang 50 cm. Normal aja, kata suster waktu itu. Yang tidak normal adalah tangismu, nak. Terlalu kencang dan cempreng. Orang satu los ruang bersalin pasti menoleh padamu kalau kau sedang mewek, yang membuat ibumu agak sedikit tak nyaman. Seolah-olah kau di “apa-apain” olehnya.

1a

Kemudian 3 tahun lalu, kau termasuk anak yang biasa-biasa saja. Kau agak pendiam, tak seperti kakak abi yang lebih aktif diusia itu. Tapi nangisnya tetap juara. Kau juga agak terkesan “malas” bergerak dan lebih banyak nongkrong di pelukan ibumu. Meskipun begitu, rupanya kau mewarisi sifat fisik ibumu, yaitu mudah berkeringat. Jadi meskipun kau terlihat nyantai, tapi keringatmu tetap mudah keluar.

2

Sedang 2 tahun lalu, kau mulai menemukan fase jati diri. Di tandai dengan kau mulai bisa bicara meski masih cadel, berjalan sampai berlari. Kau juga sudah ngga netek dan ngga pake pampers lagi. Secara perlahan kau mulai tak sechubby waktu masih bayi. Kau mulai terlihat lebih ramping karena banyak beraktivitas. Satu hal yang penting pada periode ini adalah bukti sahih bahwa kau mendapatkan sifat lain dari ibumu, yaitu tekstur rambut. Ngga sama persis sih, tapi aku yakin itu asalnya dari dia, soalnya kalau aku korea punya.hehe.

3a

Dan setahun lalu, kau bermetamorfosis menjadi anak yang agak hiperaktif. Mungkin sedikit-banyak dipengaruhi oleh kakak abi yang meracunimu dengan Dragon Ball, ultraman, Power Rangers dan Ben10. Kau jadi follower setia kakak abi. Kau membeo apa yang dia lakukan. Karena terlalu superior, akibatnya kau seringkali dibully olehnya. Hingga terpaksa aku dan ibumu turun tangan apabila kau menangis karena dibully. Tapi terkadang kau membuktikan bahwa kau bisa lepas dari bayang-bayang kakak abi. Buktinya adalah kau lebih dulu bisa melafalkan huruf “R” dan berani buar air kecil sendiri ke kamar mandi.

4

Sekarang kau sudah naik pangkat, yang dulu cuma follower kakak abi, kini sudah di follback olehnya. Dia tak lagi sering berani membully kamu. Kalau memang hak-haknya kau rampas, dia lebih banyak mengadu padaku dan ibumu. Malah dalam beberapa hal, kau bisa mengalahkannya, seperti pada game android Temple Run 2 dan Angry Birds. Tak jarang dia bertanya trik dan cheat game kepadamu. Tapi kalau soal pelajaran, baik itu mengaji, membaca, menulis dan berhitung, kau masih tertinggal. Wajar sih, kau belum makan bangku sekolah kaya kakak abi.

7

Begitulah nak, perkembanganmu selama ini. Genap 4 tahun sudah kau hidup di dunia. Masih muda memang, tapi bagiku, ibumu dan kakak abi, itu sangat berarti. Dengan adanya dirimu kami merasa jauh lebih bahagia. Akhirnya, sama seperti saat miladnya kakak abi dulu, aku dan ibumu hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu acing, Muhammad Nazri Ghazwanie. Semoga kau menjadi jawaban atas semua doa-doa kami.

8

Oh, ya, hampir lupa, ada hadiah spesial dari Allah yang dititipkan lewat aku dan ibumu. Mudah-mudahan jadi kado indah buatmu kelak. Insya Allah, jika ibumu sehat dan Allah mengijinkan, tahun ini kau akan mempunyai adik, nak.

Pilihan-pilihan Baik

•April 25, 2013 • 37 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Minggu lalu adalah minggu unpredictable bagiku. Biasanya setiap minggu kegiatanku cenderung flat-flat aja. Senin-Jumat ngantor, sabtu-minggu ngebun dan setiap malam jadi guru ngaji. Tapi minggu kemaren berubah drastis.

Diawali dengan keputusanku untuk menerima tawaran ikut tugas luar kota dari kantorku dengan tujuan jogyakarta selama 5 hari. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku ngga punya alibi bagus. Asal kalian tahu, hampir 2 tahun ini absensiku bersih dari tugas luar kota. Aku selalu sukses menolak dengan halus setiap kali ada perintah, ajakan dan tawaran untuk itu. Jika kalian bertanya kenapa, kelak jika kalian cukup dewasa akan kujelaskan kenapa. Jadi kesimpulannya, minggu lalu sistem imun tugas luar kotaku jebol.

Meskipun agak kurang suka dan tak bisa menolak, ada hal lain yang membuatku sedikit terhibur dari tugas ini, yaitu faktor Jogyakarta. Disamping kota ini adalah kota wisata yang bersih dan segala sesuatunya murah dibandingkan kalimantan, kota ini punya sejarah sendiri bagiku. Di kota inilah dulu, 13 tahun lalu, aku dan teman-teman kuliahku sempat menjadi backpacker kere. Tidur di masjid di sebuah lorong malioboro, yang diusir ketika waktu shalat subuh tiba, ngelompatin pagar pembatas kawasan candi borobudur karena ngga punya uang untuk beli tiket masuk, serta harus bergonta-ganti bis kota diselingi jalan kaki untuk bisa nyampe ke parangtritis. Aku ingat, ketika itu aku hanya membeli 1 celana batik yang sekali cuci warnanya langsur pudar, 1 kaos oblong dadung –itupun karena tergoda sama poster iklan sheila on 7, band idola waktu masih ababil- dan 1 buah slayer.

Sekarang, meski tidak terlalu drastis, aku merasa ada perbedaan perjalananku ke jogya antara dulu dan kini. Sekarang aku dengan mudah melambaikan tangan atau menelpon untuk memanggil taksi. Aku tidur nyenyak di sebuah hotel sederhana. Aku bisa jeprat-jepret semauku meski cuma pake hape. Aku sanggup membelikan kakek, nenek, paman, ibumu dan kalian berdua oleh-oleh. Aku juga bisa menyewa ATV di parangtritis. Aku bisa kongkow-kongkow sambil ngalor-ngidul malam-malam disebuah cafe yang keren bersama pak bambang, mas aan dan yoga, teman-teman dunmayku. Aku juga dengan bangga bisa membayar karcis masuk komplek candi prambanan.

IMG_20130418_153748

Bukan nak, bukan berarti sekarang aku sudah sukses. Bukan itu point tulisan ini. Aku masih jauh dari kata sukses. Memang dari segi finansial terlihat aku lebih baik dari 13 tahun lalu. Tapi itu masuk akal, karena dulu aku cuma nodong orang tuaku. Sekarang aku sudah punya pekerjaan sendiri, jadi wajarlah kalo aku bisa seperti yang aku jelaskan di atas.

Maksud tulisan ini adalah nikmati aja hidup ini. Jadi begini nak, hidup itu pilihan, sangat manusiawi kalau kita memilih yang kita sukai. Pilihan disini bukan hanya soal baik dan buruk, tapi terkadang dalam hidup itu juga ada pilihan soal baik-baik saja. Nah, ketika dalam pilihan yang baik-baik itu kita terpaksa memilih yang kurang kita sukai, ya dinikmati saja. Contohnya ya aku tadi, ”terpaksa” ikut tugas luar kota meski sebenarnya ngga mau. Nak, in this case, it’s not a big deal. Just enjoy the show.

Oia nak, mulai minggu ini dan insya Allah minggu-minggu seterusnya, jadwalku normal lagi. Tapi Aku ngga berani janji, siapa tau datang pilihan-pilihan baik lagi dan aku kembali dalam kondisi tak bisa memilih.

Weekly Photo Challenge: Color

•April 10, 2013 • 26 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

_DSC0013umbrella boys!!!

*another WPC is in here.

Bersyukur = Bahagia

•Maret 26, 2013 • 22 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku ingin menceritakan sesuatu yang menurutku sangat penting bagi kalian berdua. Seperti yang kalian ketahui, kita adalah keluarga yang sederhana. Ngga kaya, ngga miskin juga. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa aku ingin jadi orang kaya. Inilah alasan kenapa setiap weekend aku hampir selalu pergi ke kebun. Karena kalau mengandalkan gajiku dan ibumu kayanya agak sulit aku mewujudkan keinginanku itu. Karena berapalah gaji abdi negara golongan rendah seperti kami, itupun harus dikurangi dengan biaya hidup mahal di kota kita ini. Lumayanlah buat tambah-tambah beli susu-mu, acing dan SPP-mu, kakak abi.

Tapi nak, ketika kita ditakdirkan belum menjadi seperti yang aku inginkan, janganlah merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Kita harus tetap bersyukur. Maksudku, meski kita menjadi tak seperti yang kita mau, tapi yakinlah ada sesuatu nilai lebih dari keadaan itu.

Ada banyak contoh yang mendukung statementku di atas. Kaya kemarin ada gerakan earth hour dikota kita, yaitu gerakan tahunan untuk mematikan listrik selama 1 jam saat malam hari. Aku ngga bermaksud sombong nak, kita sudah membudayakan gerakan itu jauh lebih dulu dan setiap hari malah. Tapi kalo ada liga champions eropa, lain cerita.

Terlihat keren kan?! Orang lain 1 hour – 1 tahun, sedang kita ber hour-hour setiap hari. Ini murni kesadaran kami nak. Bukan karna sekedar ikut-ikutan peduli lingkungan atau gengsi-gengsian di social media, tapi lebih karna takut voucher listrik cepat habis. Hehe.

Ada juga saat musim liburan datang. Teman-teman dunmay dan kantorku kadang memposting foto-foto liburan mereka di tempat-tempat eksotis baik itu dalam maupun luar negeri di social media. Ada yang di pantai, gunung, tempat bersejarah ataupun kota-kota ternama. Ngiri?! Absolutelly, yes! Sebenarnya akupun ingin mengajak ibumu dan kalian ke tempat-tempat itu. Tapi ya itu tadi masalahnya, dana yang tak mencukupi. Sebagai gantinya aku mengajak kalian ke pemancingan, pasar malam, sawah, pantai dan bukit-bukit tak berpenghuni di seputaran kota kita ini. Kalian tetap terlihat bahagia, meski liburan ngga jauh dari rumah.

DSC_0051a

Trus dimana unsur “nilai lebih”-nya?! Begini nak, dengan blusukan menjelajahi kota, kita bisa lebih mengenal kota kita ini dengan baik. Buktinya teman-temanku banyak yang belum tahu dan menanyakan lokasi foto-foto kita yang aku aplot. Dan satu lagi, budgetnya murah, ini yg terpenting. Cukup 2 liter bensin dan makanan ringan secukupnya. See?! Refreshing dapat, hemat juga dapat.

Masih kurang?! Baiklah, aku ceritakan hal lain soal “nilai lebih” ini. Alkisah dahulu ada siput yang sangat iri dengan seekor katak. Setiap kali bertemu, siput selalu bersikap sinis. Lama-lama katak merasa tak enak hati, dan berinisiatif menanyakan sebab sikap siput yang sinis itu. Setelah berdialog, ternyata si siput iri dengan katak karena dibekali empat kaki dan bisa melompat kesana-kemari dengan cepat, berbeda dengan siput yang tak punya kaki, merangkak dan harus membawa cangkang yang lumayan berat. Ditengah dialog, tiba-tiba datang seekor elang. Siput dengan refleks bersembunyi di cangkangnya, sedang katak tak sempat melompat. Ahirnya si katak malang tertangkap elang dan jadi santapannya. Setelah itu siput sadar, bahwa dalam keterbatasan fisiknya dia mempunyai “nilai lebih” dibandingkan mahluk lainnya.

Hal-hal tersebut di atas tersebut kiranya cukup untuk menggambarkan “nilai lebih” hidup sederhana. Bukan berarti menjadi orang kaya itu ngga bagus. Orang kaya itu punya akses dan space lebih baik. Yang aku tekankan disini apabila kalian berada pada posisi yang menurut kalian tidak menguntungkan. Karna ngga ada gunanya meratapi hidup yang tak sesuai keinginan kita. Lebih baik berfikir positif dan selalu mensyukuri apa yang telah di gariskan oleh-Nya. Jadi aku harap kelak kalian berdua bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur. Karena aku yakin bukan kebahagian yang membuat kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Weekly Photo Challenge: Forward

•Februari 27, 2013 • 20 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

_DSC0098

Karena  hidup itu terus berjalan..

 *another WPC is in here.

Bab Orang Dewasa

•Februari 27, 2013 • 8 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Aku tercenung. Banjir yang datang beberapa hari lalu yang membuatku seperti itu. Sudah lama sekali seingatku, kota ini mendapat banjir seperti ini.

Entahlah nak, banjir ini disebabkan oleh apa. Ada yang bilang karena kiriman dari hulu sungai yang curah hujannya sedang tinggi yang bertepatan dengan pasangnya air laut. Kebetulan kota kita tingginya beda tipis dengan laut. Ada juga yang bilang karena kerusakan lingkungan, hutan dibuka untuk keperluan pertambangan, perkebunan dan perumahan, sampai perilaku masyarakat yang buruk soal sampah. Dan yang paling ekstrim adalah karena jebolnya tanggul PT. KPC, perusahaan tambang batu bara terbesar di indonesia. Yang terakhir ini belum aku verifikasi kebenarannya.

Adapun penjelasan pemerintah kabupaten, yang aku dengar lewat pak camat, banjir kali ini murni bencana alam. Sesederhana itukah? Hehe, entahlah. Yang pasti sistem drainase kota ini sangat minim dan buruk. Adapun tanggapan pak bupati aku nggak dengar, nak. Mudah-mudahan beliau tak terlalu sibuk mengurusi partainya yang sekarang sedang gonjang-ganjing, tidak tersita perhatiannya untuk tim nasional sepak bola dan asosiasi kabupaten seluruh indonesia yang beliau pimpin. Sehingga mengelola kota ini tetap jadi prioritas utama.

Tapi apapun itu, yang jelas banjir besar telah terjadi. 60% kota kita tergenang. Banyak sekali rumah yang terendam. Rumah kakekmu terendam setinggi paha orang dewasa. Hingga nenekmu yang sedang sakit-sakitan ikut mengungsi. Kita masih beruntung nak, air nggak sampai masuk kerumah, meski sekeliling kita air semua.

Yang menambah penderitaan masyarakat adalah dampak turunan banjir ini, yaitu padamnya listrik. Dua hari kita sekeluarga seperti kembali ke jaman batu. Hape kehabisan baterai, senter charger pun sama. Untungnya gas kompor masih tersisa, sehingga aku nggak perlu buat tungku. Tanganku dan ibumu pegal untuk mengipasi kalian berdua karna kepanasan. Dan saat malam hari kita hanya berhiaskan lilin. Sekilas terlihat romantis, padahal sebenarnya tragis.

Tapi yang paling membuatku sedih adalah tenggelamnya kumbung jamur milikku dan teman-temanku. Ratusan baglog yang baru dan siap tanam rusak. Bahan baku pembuatan media juga hanyut oleh banjir. Panen otomatis berhenti. Kami harus mulai dari awal lagi. Padahal kumbung jamur itu adalah harapan masa depan kami. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh para petani lain.

Begitulah nak, ketika kalian dewasa itu akan selalu ada ujian dan cobaan yang datang. Tinggal bagaimana cara kita menghadapinya. Aku pernah membaca sebuah pepatah yang bilang bahwa pelaut yang handal itu bukan di hasilkan dari samudra yang tenang. Jadi ketika ujian datang kita tak boleh lari, tapi harus dihadapi. Apabila mampu melewatinya, maka kita akan semakin kuat dan pandai dalam menghadapi cobaan-cobaan yang lain. Mirip-miriplah dengan bangsa seiya di komik dragon ball, yang semakin kuat apabila sering bertarung.

DSC_0007

Terlepas hal itu semua, ada yang berbahagia ketika banjir kemarin, yaitu anak-anak seumuran kalian berdua. Anak-anak seperti kalian tak pernah ambil pusing tentang permasalahan yang terjadi. Yang penting happy. Tak mengapa, nak. Bermainlah sepuasnya, hingga nanti akan tiba saatnya guru kehidupan datang pada kalian dan mengajarkan tentang bab orang dewasa.

Weekly Photo Challenge: Home

•Februari 12, 2013 • 14 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

DSC_01831

Lebih baik disini, rumah kita sendiri.

Tempat yang kita tuju ketika beranjak pulang.

*Another WPC is in here*

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya.