Catatan Seorang Golputer (Part 2)

Bismillahirrahmanirrahim

Jika kemarin aku menjelaskan  dua alasanku menjadi seorang golputer yang sifatnya konseptual yang aku tulis di sini, maka kali ini aku akan membeberkan alasan yang bersifat teknis. Dengarkan baik-baik nak.

Ketiga, aku nggak kenal secara mendalam semua pilihanku. Kalau alasan yang ini agak panjang penjelasannya. Begini nak, ketika aku membelikan kalian mainan di toko, aku selalu memeriksanya semua pilihan yang ada terlebih dahulu. aku liat, pegang-pegang, pelajari bentuknya, bahannya, kegunaannya, efek bahayanya dan tentu saja harganya. Aku bandingkan satu sama lain sampai menemukan yang tepat untuk kalian. Nah, jika hanya untuk mainan yang sederhana tetek bengeknya saja aku seteliti itu, seharusnya aku lebih teliti lagi kalau memilih seorang pemimpin, yang katanya dapat menentukan nasib sebuah daerah.

Di dapil kita ada 70 orang caleg DPR Kabupaten, 131 orang caleg DPR Provinsi, 96 orang caleg DPR Pusat dan 20 orang untuk DPD, total ada 317 orang. Terus terang, aku nggak sanggup menstalking atau memata-matai orang sebanyak itu. Malah, sebagian besar dari mereka malah ngga berdomisili di kota kita. Terus terang aku ngga punya waktu, tenaga dan biaya untuk itu. Waktuku habis hanya untuk bekerja dan mengurus keluarga kita.

Memang di dalam agama kita ada larangan memilih orang di luar agama kita dan wanita untuk jadi pemimpin. Anggap aja jumlah caleg non muslim itu 20% dan wanita 30% sesuai undang-undang, jadi total yang dieliminasi 50%. Masih ada 158 orang lagi yang harus aku mata-matai, masih kebanyakan nak.

Aku seringkali mendengar slogan “jadilah pemilih yang cerdas” atau “kenali pilihanmu dengan baik sebelum memilih”, kalau kasusnya sepertiku gimana? Aku ingin sekali jadi pemilih cerdas dan mengenali semua pilihan yang ada, tapi bagaimana mungkin? Bagi waktu aja aku sulit. Ada sih, visi-misi beberapa kontestan dalam bentuk leaflet, selebaran, baliho maupun tulisan di dunia maya yang sempat aku baca, tapi menurutku, itu belum cukup. Dalam radar pikiranku ketika membaca itu semua tertulis : beware, pencitraan detected! Visi dan misi wakil-wakil kita yang duduk sekarang itu juga dulunya juga bagus-bagus, toh kinerja mereka memble, malah ada yang ditangkap segala.

Dalam teori pilih-memilih versi aku, seharusnya yang memilih lah yang aktif mencari tahu soal pilihannya, bukan sebaliknya. Ini aku buktikan sendiri ketika aku membelikan kalian mainan tadi atau saat aku memutuskan meminang ibu kalian untuk menjadi pendamping hidupku. Tapi di pemilu kita, beda nak. Si kontestan yang aktif kesana-kemari jualan janji berbungkus program visi-misi dan bantuan sosial, sementara yang milih duduk manis dengerin si caleg koar-koar dan berjoget kalau diputarin lagu dangdut.

Menurut pemikiranku, ketika daftar caleg dirilis ke pulbik, harusnya negara meyediakan fasilitas atau kemudahan dalam mengenali semua pilihan yang ada. Bisa berupa rekam jejak yang memuat semua program, riwayat hidup, sifat, karakter, watak dan segala tetek bengek si kontestan. Jika dipandang perlu, si caleg diikuti kamera video atau CCTV, biar kita tau keseharian si caleg. Jadi caleg nggak perlu keluar uang banyak, capek-capek keliling, door to door, kaya sales barang kelontongan kreditan.

Aku yakin banyak warga lain di republik ini yang mempunyai hak pilih yang nasibnya sama sepertiku, nggak kenal sama sekali dengan semua calon yang ada. Seperti warga di pelosok atau di pedalaman yang jumlahnya lumayan besar. Ahirnya, ya mereka memilih yang mereka kenal saja, kenalnya pun paling permukaannya saja. Nak, yang begini ini belum cerdas menurutku.

=======

Keempat,  sistem pukul rata, semua boleh memilih dan dipilih. Di negara kita, asal udah 17 tahun atau sudah menikah, semua boleh ikut pemilu. Semua level masyarakat baik itu dari segi intelektual dan finansial boleh memilih. Semua profesi atau pekerjaan boleh memilih. Mau dia itu bodoh, pinter, kaya, miskin, preman, penjudi, pemabuk, buruh, petani, waria, PNS, pengangguran, penyuka sesama jenis, pemerkosa, ustadz, kyai atau pendeta boleh memilih. Alasannya sih hak asasi. Disinilah yang aku nggak setuju. Masa orang-orang yang nggak punya pengetahuan atau nggak tau apa-apa soal lingkup tugas jabatan yang diperebutkan boleh ikut memilih?  Masa’ suara orang alim, berilmu, dan orang baik-baik setara  dengan suara pelacur, penjudi, pencuri, pemerkosa segala macam? Apa-apaan ini?

Pun demikian dengan calegnya. Setahu aku syaratnya standart banget. Nggak ada tes kejiwaan, tes ahlak dan moral, serta tes-tes lain yang melambangkan beratnya amanah yang bakalan dipikul sebagai wakil rakyat. Syarat Pendidikan minimalnya pun cuma SMA. Kalau mau jadi guru aja wajib sarjana, ini yang membuat Undang-Undang buat guru kok cuma SMA? Terahir malah aku mendengar adanya caleg syiah di sebuah partai islam. Ironis sekali.

Karena dasarnya yang bebas tadi, maka pedoman orang dalam memilih dan hasilnya pun jadinya macam-macam. Ada yang karena teman dekat, kerabat, silsilah keluarga, uang mahar, kepopuleran, kekayaan, kedermawanan bahkan ada yang karna kegantengan. Hasilnya ya liatlah wakil kita sekarang nak. Ada yang artis, tukang tidur, tukang bolos, makelar proyek, koruptor dan lain-lain. Ada juga sih yang baik, rajin dan sesuai kapasitasnya, tapi cuma sedikit. Alhasil kinerja secara kelembagaan mereka pun nggak baik.

Aku nggak akan ngambil contoh jauh-jauh dari para khulafaur rasyidin yang terpilih nggak pake pemilu, tapi cukup contoh dari komik. Kalian kan tau aku seorang penggemar komik Naruto. Jadi di dalam cerita Naruto itu, nggak semua warga desa konoha dapat memilih seseorang menjadi Hokage (pemimpin desa). Hanya para tetua desa dan ninja level tertentu yang bisa. Itu terjadi karena sepertinya Masashi Kishimoto -pengarang komik tersebut-  sadar, hanya mereka-mereka itulah yang tahu mengenai seluk-beluk seorang Hokage secara mendalam. Karena mereka itu sudah diakui keilmuannya dan teruji loyalitasnya terhadap desa konoha. Masa’ negara kita kalah sama komik naruto nak?

======

Kelima, undang-undang nggak melarang kita golput. Orang golput nggak akan dihukum nak, kita diperbolehkan untuk golput.  Berbeda jika kita nggak punya KTP atau SIM ketika naik motor. Selama aku golput, aku nggak pernah menerima diskriminasi dalam bentuk apapun oleh negara ini, baik itu dirumah maupun di lingkungan kerjaku. Aku masih bisa mengurus STNK, membayar tagihan air, mengurus akte lahir si Nadya dan lain-lain. Tadi malam aku nonton tipi, papan nama gedung DPR-RI masih sama, nggak berubah menjadi “Dewan Perwakilan Rakyat RI Khusus yang Memilih”. Pokoknya tidak berbeda dengan warga lain yang mencoblos. Kalau pun ada, paling cuma bullyan oleh orang-orang yang taqlid buta sama democrazy yang menganggap dirinya paling syah memiliki negara ini.

======

Akhirnya nak, ada yang bilang kalau kita golput maka suara kita dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Terus apa gunanya bawaslu dan saksi di TPS? Ada yang bilang bahwa orang golput membiarkan orang jahat memimpin, pertanyaannya kalau udah tau jahat kenapa negara ini memperbolehkannya ikut pemilu? Malah ada juga yang bilang orang golput nggak berhak tinggal di negara ini, aku cuma ketawa dengarnya nak. Lah kita udah di palak negara ini dengan nama pajak masa’ nggak berhak?

Kalaupun nanti yang terpilih orang yang nggak bener,  ya sebisa mungkin kita koreksi dan luruskan sesuai kemampuan kita, begitulah kira-kira hadist Rasulullah ketika kita melihat adanya kemungkaran. Begini nak, aku cuma berusaha mengikuti apa agama kita ajarkan, yaitu untuk mentaati perintah pemimpin. Perintah pemimpin negeri ini jelas, boleh memilih, boleh nggak. Dan aku memilih nggak. As simple as that.

golput-_130211163103-504

Jadi keliru besar jika ada yang bilang golput itu ciri seseorang yang putus asa, egois, apatis, penumpang gelap, bukan warga negara yang baik sampai melambangkan perbuatan setan segala. Aku berfikir, jangan-jangan mereka yang bilang gitu adalah bagian dari kontestan. Entah si calon sendiri, tim suksesnya atau para fans boy nya. Semacam modus, supaya mereka atau jagoan mereka dipilih. Sekedar curiga boleh kan?

Jadi pesanku kepada kalian bertiga : keep calm and stay golput. Itu saja.