Pandai-pandailah membaca arah angin

Bismillahirrahmanirrahim

Hari jumat minggu lalu secara tak sengaja aku menonton talk show Kick Andy di Metro TV. Aku nggak nonton utuh sih, karena sambil mengayun adik kalian di ayunan. Di salah satu segmen acara tersebut, bintang tamunya menjelaskan soal growbox jamur tiram. Awalnya aku penasaran, kok bisa sebuah kotak kardus bisa numbuhin jamur. Aku pikir ada teknologi baru apaaa gitu. Tapi setelah di shoot lebih dekat, eh ternyata itu cuma baglog jamur yang dimasukin ke dalam sebuah kardus. Meski begitu, aku tetap penasaran, kok bisa masuk acara Kick Andy. Karena menurutku Kick Andy itu acara yang menginspirasi dan “anti mainstream”, modal terkenal aja nggak menjamin untuk bisa jadi bintang tamunya.

cats

Besoknya aku jalan-jalan ke situsnya growbox dan nonton Kick Andy secara lengkap di Youtube. Dari penelusuran itu aku takjub. Harga satu growbox paling murah 40.000 rupiah, udah nyebar ke seluruh indonesia bahkan manca negara, penjualan terbatas, masuk koran ama tipi nasional, dan di dari akun instagram mereka, growbox udah dipegang oleh pak gita wiryawan dan anis baswedan. Awesome!

Terus terang, sebagai seorang yang bisa membuat media, menumbuhkan dan sedang punya usaha sampingan kecil-kecilan jamur tiram aku seperti di tonjok tepat di muka ku, nak. Aku merasa iri sekaligus bodoh. Kok bisa mereka –pencipta growbox- bikin baglog jamur segitu mahal, eksklusif dan populer. Itu pun jamurnya belum keluar. Sedang aku bikin jamur yang sama nggak bisa seperti itu.

Setelah aku renungkan, aku menyimpulkan beberapa hal yang meyebabkan kenapa growbox bisa seperti sekarang. Yang utama adalah kemasan produknya. Kemasannya growbox itu unik dan kreatif. Jadi begini nak, kemasan atau penampilan itu bisa mempengaruhi value sesuatu. Dalam hal produk, istilah don’t judge a book from the cover itu agak sedikit kurang tepat. Setidaknya growbox membuktikannya. Baglog jamur yang kubuat sendiri dengan biaya tidak lebih dari 2.000 rupiah, atau kalau beli jadi di daerah kita sekitar 6.000 rupiah, bisa berubah menjadi 40.000 rupiah dengan tambahan kardus bertali, yang dilengkapi sablonan tulisan dan sedikit gambar keterangan diluarnya. Dan itu mungkin belum termasuk ongkos kirimnya nak.

Nilai lebih growbox yang lain adalah kecerdikan  pembuatnya dalam melihat peluang. Growbox ditujukan untuk masyarakat perkotaan (urban), yang tidak punya lahan dan tidak punya waktu untuk berkebun. Growbox juga sudah mulai masuk kesekolah-sekolah sebagai bahan edukasi bagi anak-anak. Jadi anak-anak dapat belajar dan mengerti arti disiplin dan sabar ketika merawat growbox sehingga dapat memetik hasilnya di kemudian hari. Sebenarnya nggak cuma anak-anak sih, tapi orang tua juga nak. Hehe.

Dengan desain cantik dan ditambah promosi di media sosial, maka makin berkembanglah si growbox. Kalian tau, ahir-ahir ini, penggunaan media sosial itu sangat pesat perkembangan pada masyarakat perkotaan. Ingat tren keripik “Mak Icih” yang dulu sempat terkenal?

Masyarakat kota itu juga tingkat pendidikannya yang sudah lumayan tinggi. Sekarang mereka mulai sadar akan pentingnya arti kesehatan. Perlahan-lahan mereka mulai beralih dari makanan junk food ke makanan yang lebih ramah bagi tubuh. Nah, jamur itu dibuat dari bahan-bahan alami dan kandungan gizinya juga lumayan tinggi. Kalian bukalah skripsiku di lemari kita, ada lengkap di situ semua soal bahan dan gizi jamur. Jadi pas banget si growbox untuk masyarakat kota.

Alasan lain adalah nggak banyak orang yang tau soal budidaya jamur. Pada umumnya orang tau jamur itu tumbuh sendiri di alam pada waktu musim hujan. Karna masih banyak yang belum ngerti, maka ketika ada yang menawarkan budidaya jamur dengan cara yang mudah akan cepat diminati. Para orang awam tersebut akan antusias mencobanya. Persis seperti dulu aku mengenal budidaya jamur nak. Dulu ketika aku melakukan percobaan pertama kali untuk keperluan judul skripsiku, aku merasa senang dan bangga sekali ketika melihat jamur keluar dari media tanam. Nah, mungkin perasaan itulah yang dialami oleh para pembeli growbox ketika melihat jamurnya muncul.

Cerdiknya lagi, para pencipta growbox itu juga menyuruh kita berkebun (membuka kardus, menyemprot, menunggu jamur keluar dan memanen). Mirip dengan game online Hay Day di Android atau Farmville di Facebook. Bedanya ini real nak. Ini benar-benar dilakukan dan hasilnya bisa di makan. Asal kalian tau, permainan Hay Day itu ada di jajaran unduhan teratas list game di Google PlayStore. Logikanya, yang nggak nyata aja banyak yang suka, apalagi kalo beneran ada di depan mata.

Jadi menurutku, para pencipta growbox itu nggak cuma menjual produk semata, tapi sekaligus menjual semacam “gaya hidup” nak. Kebanyakan, orang akan menomorduakan harga apabila berhubungan dengan gaya hidup. Tidak percaya? Coba kalian pikir, berapa sih harga jamur di pasaran? Kalau di jawa paling 10.000 – 15.000 perkilogram, itu langsung jadi, tinggal di masak. Nah, bandingkan kalau beli growbox seharga 40.000,-. Belum lagi  merawat dan menunggu selama 2 – 4 minggu, hasilnya juga nggak sampai 1 kilogram. Jauh sekali perbedaannya. Tapi sekali lagi nak, ini nggak cuma soal produk, ini juga soal life style.

====

Akhirnya nak, jika kelak kalian besar dan dewasa, pandai-pandailah membaca arah angin bertiup. Jangan seperti diriku yang bodoh ini. Aku bodoh, karena tidak bisa membaca peluang di depan mataku. Tapi apabila kelak kalian juga bernasib sepertiku, jangan terlalu mengutuk diri nak. Bangkitlah dan jangan larut dalam penyesalan. Kata guruku dulu, tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Terus terang ini menginspirasiku. Jadi jika sebelum aku mengenal growbox, aku menjalankan usaha sampingan jamur sekenanya aja, kini ada banyak rencana di kepalaku. Seperti bikin growbox KW Super misalnya. Hehe.